BANJARNEGARA – Destinasi wisata Dawuhan yang ada di Kecamatan Wanayasa menambah obyek wisata baru. Kini wisatawan dapat menikmati keindahan panorama sungai Panaraban dengan cara lebih baik lagi. Pengelola wisata Dawuhan membangun sejumlah gazebo yang berlokasi di pinggir sungai Panaraban. Wisatawan perorangan maupun keluarga akan menikmati sensasi alam pegunungan berbeda saat berdiam diri di Gazebo. Demikian urai Ketua Tirta Panaraban, Supriyanto, Jumat (01/03) di lokasi wisata.

“Semilir angin meniup dingin, gemericik suara air, alur sungai yang memanjang dengan batu-batu kalinya,  dan sekali kali melihat wisatawan tubing di Sungai Panaraban adalah suasana khas  yang tidak dapat didapatkan di tempat lain” katanya.

Sensasinya makin khas pedesaan di ketinggian pegunungan manakala suasana ini ditambah dengan menikmati kuliner khas Panaraban.

“Sega jagung, sega leye, buntil, pecem, iwak kempit dan sambal gurihnya, ditemani minuman khas Wedang Dantana…mhmm…mak nyuss.. tiada tanding rasanya” katanya.

Selain gazebo, obyek baru lainnya yaitu kolam renang dan outbond. Bagi mereka yang mau menginap di sekitar obyek wisata disediakan homestay yang dikelola oleh warga langsung. Posisinya menyebar di dalam desa. Dengan begitu, wisatawan menyatu dengan kehidupan warga.

“Ini memang program pengelola. Wisatawan yang menginap berinteraksi dengan pemilik rumah dan warga tanpa ada batas. Mereka bisa belajar langsung proses pembuatan getuk, tempe gembong, opak pecak, dan opak cantir” terang Supriyanto.

Wisata sejarah dan religi juga ada di kisaran desa wisata Dawuhan. Di kawasan Dawuhan berlokasi situs yang namanya berawalan dengan Watu atau Batu dalam bahasa Indonesia.

“Tiga situs tersebut adalah Watu Tepak yang konon merupakan tempat istirahat Sumitro Kolopaking Bupati ke 5 Kabupaten Banjarnegara, Watu Tumpang yang konon merupakan tempat istirahan Pangeran Diponegoro, seta Watu Lawang dan Watu Jalak yang cerita mengenai keduanya masih misteri” ungkapnya.

Pada akhirnya, obyek wisata minat khusus tubing yang masih menjadi daya tarik utama. Obyek yang dilaunching pada tanggal 1 Januari 2016 ini masih ramai diminati pengunjung dari wisatawan lokal Banjarnegara maupun luar daerah. Jumlah kunjungan saat ini mencapai 1000 wisatawan tiap akhir pekan. Dengan tambahan tiga obyek tersebut, kami optimis akan meningkatkan kunjungan.

“Harapannya jumlah wisatawan meningkat tidak saja sisi jumlahnya namun juga kualitasnya. Yaitu tidak hanya sesat datang lalu pergi namun ditambah lagi dengan meninginap di homestay. Sebab tidak cukup sehari untuk menikmati sensasi yang ada di Dawuhan” pungkasnya.

Kasi Pelayanan Informasi Pariwisata dan Kebudayaan pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Chaerudin menambahkan obyek Wisata Dawuhan merupakan salah satu destinasi wisata di Banjarnegara yang pas untuk refresing sekaligus relaksasi karena suasana alam yang nyaman. Bagi generasi mileneal, tempat ini juga memiliki spot foto yang instagramable dan natural.

“Obyek wisata memiliki pemandangan lembah berhias pematang sawah, dikelilingi aliran sungai yang seolah menembus bukit. Sangat indah untuk banyak foto” katanya.

Bagi mereka yang belum pernah berkunjung ke obyek Wisata Dawuhan tempat ini sangat mudah dituju dari berbagi arah dengan akses jalan aspal yang sudah bagus. Hanya saja karena lokasinya di wilayah pegunungan tentu pengunjung harus melalui jalan mananjak, menurun, dihiasi pemandangan lembah. Dari Banjarnegara kurang lebih berjarak 35 km. Sedang dari arah Pekalongan lewat Kalibening sekitar 70 km.

“Wisatawan yang datang dari arah Kota Banjarnegara lewat jalan Banjarnegara-Karangkobar. Sampai perempatan Karangkobar lurus ke arah Pejawaran kurang lebih 4 Km. , Dan bagi wisatawan yang datang dari Pekalongan, Pemalang, jalur pantura, dan Tegal lewat Kecamatan Kalibening terus menuju Karangkobar. Sampai Pertigaan Wanayasa belok kiri menuju arah Karangkobar. Terus mengikuti arah yang sama. Dari perempatan Karangkobar belok kurang lebih 4 km menuju arah Pejawaran” pungkasnya. (Dien/eko/ed DS)