Bila Anda berkunjung ke Car Free Day (CFD), sempatkanlah untuk mencicipi Hay! Milk. Itu nama produk milk shake yang dikelola Pak Toto pensiunan PNS Dinas Pertanian Pemkab Banjarnegara dan istri. Produk minuman yang proses pembuatannya dengan cara menggoyang goyang campuran berbahan dasar susu ini memiliki 8 varian rasa diantaranya coklat, vanilla, dan strawberry. Lokasi lapaknya ada di Jalan A. Yani, tepatnya ada di seberang kantor Bupati Banjarnegara.

Lapak Pak Toto buka dari pukul 05.00 WIB sampai kisaran pukul 09.00 WIB tiap kegiatan CFD. Namun proses sesungguhnya dari produksi dagangan ini telah mulai dari pukul 22.00 wib malam sebelumnya. Produk yang sudah jadi kemudian dimasukan dalam lemari pendingin. Usai berjamaah sholat subuh di Masjid Annas bin An Nadhar, Kampung Baturgede RT 05 RW 01 Desa Petambakan, Kecamatan Madukara bersama istri bergegas menuju alun-alun dengan membawa semua peralatan lapak.

Awal Usaha

“Atas kersaning Gusti Allah SWT”. Itu jawaban Pak Toto bila ditanya apakah usahanya ini merupakan bagian dari persiapan masa pensiunya.

“Saya mengalir saja Mas”. Itu jawaban berikutnya saat ingin penjelasan lebih.

“Tak ada persiapan, dan belum ada rencana masa pensiuan mau apa. Pikiran kami, habis pensiuan bayangannya ya… momong cucu” lanjutnya.

Bila cerita soal sejarah usaha, lanjutnya, bisnis Susu ini, bermula dari anak.

“Ini bisnis anak di Jakarta yang dialihtangankan ke orang tuanya” lanjutnya.

Awalnya, bisnis milk shake ini merupakan usaha sampingan milik putri sulungnya yang bekerja sebagai professional di Jakarta. Pasarnya hanya di kantor saja. Namun, meski hanya di kantor, hasilnya lumayan juga. Ini karena jumlah karyawan kantornya banyak. Maklum perusahaan besar.

Milkshake dijual dalam kemasan botol yang menarik. Sementara untuk produksinya,  dikerjakan usai pulang kerja yang rata-rata pukul 22.00 WIB setiap harinya. Namun waktu larut tersebut tidaklah menjadi halangan, sebab pilihan putri untuk usaha ini selain karena insting bisnis juga Dia tidak dapat langsung tidur usai pulang kerja.

Seiring dengan perjalanan waktu, karir putri di perusahaan makin naik. Kesibukan pekerjaan ikut meningkat juga. Akibatnya, Dia tidak dapat lagi mengurusi usahanya. Saat Dia berniat memutuskan untuk menghentikan usaha milk shakenya, orang tua datang berkunjung ke Jakarta. Pucuk dicinta ulam tiba. Dicobanya untuk menawarkan peluang usaha ini pada orang tuanya. Namun dirinya tak mau memaksa. Apa mau Bapak, itu yang akan dianutnya.

Saat ide tersebut ditawarkan anak padanya. Pak Toto tidak ambil lama mengambil keputusan. Lagi pula Dirinya juga belum punya ide apa untuk mengisi masa pensiunnya yang tinggal satu tahun setengah lagi.

“Bila Bapak berkenan, usaha ini bisa dijadikan sarana untuk mengisi waktu di masa pensiun yang hampir tiba” bujuk anaknya.

Maka, saat usaha dimulai, itu satu tahun menjelang pensiun. Dan saat pensiun tiba di bulan Desember 2017, Dirinya telah memulai usaha dengan cara lebih baik.

“Seperti jadual perjalanan kereta api, yang tadinya jadual kerja regular setiap harinya, kini 1 minggu 2 – 3 kali, minimal 1 kali dalam seminggunya. Jadi sangat langsam….soft” katanya.

Kalau soal pendatapan, kata Pak Toto, yaa…adalah.

“Istilahnya, ada cukup uang untuk bensin ngalor-ngidul kendaraan (red. Mobil Pak Toto Sedan)” katanya.

Pak Toto mengabdi sebagai PNS selama 27 tahun hingga pensiun di bulan Desember 2017. Pria lulusan Unisri Solo ini memiliki 1 istri 2 putri dan 3 cucu. Dua putrinya merupakan lulusan UGM Yogyakarta dan kedua-keduanya sudah hidup mandiri bersama keluarga di Jakarta dan di Yogyakarta.

 

Kualitas yang Utama

Modal utama, tentunya susu. Ditambah coklat, kalau mau membuat rasa coklat, dan seterusnya. Kalau botol, harus beli juga di Surabaya. Ini yang membedakan produk Hay! Milk dengan produk lain. Kalau produk lain, langsung buat, tunggu dan langsung minum.

“Sebenarnya dengan produksi seperti ini, margin laba yang diperoleh lebih besar. Namun kami memilih produk yang berbeda. Kualitas dan citra produk kami utamakan” katanya.

Produk kami buat malam hari, kemudian masuk mesin pendingin untuk dipasarkan esok harinya.

“Bila disimpan dalam lemari pendingin dengan baik, produk dapat bertahan hingga 4 hari” katanya.

Campurannya juga berbeda. Untuk produk Hay! Milk bahan dasar utama susu tetap pakai sesuai ukuran standar yang dianjurkan. Tidak berani untuk mengurangi. Kualitas kami utamakan. Bahkan apabila kualitas produk menurun di esok harinya, kami ganti semua.

“Ini pernah kami alami saat listrik mati. Kami ganti semua produk yang rusak banyak, sedang, ataupun yang sedikit. Tidak berani kami memasarkannnya” katanya.

Pilihan packing dengan botol dan dengan pilihan bentuk yang menarik karena kami ingin memberi kesan produk Hay! Milk bukan merupakan produk sembarangan.

“Ini produk minuman berkualitas, baik soal wadah maupun rasa. Meskipun dijual dengan harga murah” katanya.

 

Ceruk Pasar Menggiurkan

Harga jual per botol Hay! Milk Rp 10 ribu. Omset dalam satu kali pasaran CFD ada pada kisaran Rp 1  – Rp 1,5 juta.  Dalam satu bulan ada 4 – 5 kali CFD. Itu artinya omset berkisar antara Rp 4 – Rp 6 juta.

“Di Pasar Ramadhan kemarin, dengan 25 hari kerja, omset mencapai Rp 25 juta” katanya.

Omset ini masih ditambah dari putaran penjualan di Toko YS dan Café SY.

“Di toko pertama, penjualan cukup lancar. Omset 1 minggu 100 botol atau lebih dengan dua kali kirim. 1 bulan bisa dapat 400 – 500 botol” katanya.

Dengan perhitungan omset seperti ini, penulis memperkirakan omset Pak Toto dalam satu bulannya antara Rp 10 juta – Rp 12 juta. Bila prosentase laba ada pada kisaran 50% dari omset kotor, itu artinya per bulan Pak Toto bisa memperoleh pendapatan pada kisaran Rp 5 – Rp 6 juta. Itu bisa jadi lebih besar dari uang pensiun. (**_eBr)