BANJARNEGARA – Sampah plastik selama ini masih menjadi permasalahan karena sangat sulit terurai secara alami. Di sisi lain, setiap hari selalu ada produksi sampah plastic, baik rumah tangga, pertokoan, rumah makan, dunia usaha, maupun industry.

Upaya mengatasi permasalahan sampah plastic sudah ditempuh dengan cara pemilahan sampah organic dan an organik sejak dari dapur rumah tangga, perkantoran, dan dunia usaha. Dan pada tingkat akhir, adalah pemilahan sampah yang dilakukan oleh para pemulung, sebab meski masuk kategori sampah, sampah plastic ini masih mempunyai nilai rupiah.

Kebanyakan sampah plastic yang dipilah saat ini masih disetor ke pabrikan diluar banjarnegara dalam bentuk sebagaimana adanya. Sementara kemampuan untuk mengolah sampah plastic menjadi lebih bernilai masih belum bisa dilakukan oleh semua TPA dan bank sampah yang ada. Padahal jika bisa mengolah menjadi sesuatu yang berguna, maka akan memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. Gagasan untuk meningkatkan nilai tambah sampah plastic inilah yang sekarang mencoba dilakukan Bank Sampah Cahaya Makmur yang bertempat di Desa Gelang Kecamatan Rakit.

Bank sampah yang baru beroperasi sekitar delapan bulan ini setiap harinya bisa menerima 1 ton sampah plastik yang berasal dari pabrik-pabrik di luar Banjarnegara. Sampah-sampah plastik tersebut kemudian diolah melalui beberapa proses menggunakan mesin hingga menjadi biji plastik.

Biji plastik tersebut dijual serta dikirim ke Jakarta dan Bekasi. Disana, kata Budi, sudah ada pihak yang mau menampung untuk membuat biji plastik menjadi bahan baku pembuatan ember, rafia dan lain sebagainya.

“Satu kilogram biji plastik dijual seharga Rp.7000,” ujarnya.

Untuk proses pembuatan biji plastik ini Budi menjelaskan bahwa sampah plastik yang sudah terkumpul dihancurkan kemudian dicuci, lalu dikeringkan dan dipanaskan sehingga lumer dan berbentuk seperti adonan tanah liat. Adonan tersebut digiling hingga menyerupai mie dan proses terakhir adonan di masukan ke mesin untuk dihancurkan menjadi bentuk biji.

Hanya saja, saat ini omset produksi biji plastic tersebut baru cukup untuk mengganti biaya operasional. Untuk meningkatkan margin profit usaha, ke depan dia dan rekan-rekannya akan menjalin komunikasi dan kerja sama dengan TPA dan bank-bank sampah yang ada di Banjarnegara. Selain untuk memperbanyak bahan baku, kegiatan ini juga bertujuan untuk mengurangi sampah, khususnya sampah plastik di Banjarnegara bisa terealisasi.

“Di Banjarnegara sendiri  baru Susukan dan Pingit yang menyetor sampah plastik kesini,” ungkapnya.

Budi menambahkan bahwa dia berencana untuk membuat paving blok dari sampah plastik. Hal ini juga untuk memberdayakan masyarakat sekitar dengan harapan bisa meningkatkan ekonomi warga.

Diakuinya, saat ini bank sampahnya belum bisa mengolah semua jenis sampah plastik. Sementara jenis sampah yang bisa diolah di tempatnya adalah jenis plastik Polypropylene (PP) seperti bungkus mie instan, plastik roti dan bungkus makanan ringan.

Wakil Bupati Banjarnegara, Syamsudin berkesempatan mengunjungi bank sampah tersebut dan melihat proses pengolahan sampah plastik menjadi biji plastik. Dia menaruh harapan besar dengan adanya pengolahan sampah plastik seperti ini. Wabup optimis bahwa sampah plastik yang bisa diolah akan mengurangi beban sampah yang menjadi permasalahan selama ini dan memiliki nilai guna.

“Meskipun belum semua sampah plastik bisa diolah disini, paling tidak nantinya jumlah sampah di Banjarnegara akan semakin berkurang,” katanya. (amar/ed DS)