DS – Pengelola obyek wisata Dawuhan, Kecamatan Wanayasa, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Tirta Panaraban bersama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kamis (14/03) menggelar event budaya Festival Dawuhan. Festival yang baru pertama kali diselenggarakan ini bertujuan untuk mengenalkan sekaligus mempromosikan obyek wisata Dawuhan dengan segala potensi industri rumahan.

Ketua Pokdarwis Tirta Panaraban Gendut Supriyanto mengatakan gelar seni Budaya Dawuhan dikuti oleh kurang lebih 1500 orang warga dari berbagai unsur dalam desa. Gelar acara diawali dengan acara Kirab Budaya. Kirab diikuti Perangkat Desa, Lembaga Desa masyarakat, penari gambyong, seni Kentongan, seni kuda lumping, Gunungan hasil Bumi, Gunungan Tempe dan getuk, serta puluhan tenongan dengan menu berbagai macam makanan olahan bahan singkong yang merupakan produk unggulan.

“Menu olahan dari bahan dasar singkong ini menjadi bahan dagangan yang diperjualbelikan dalam Pasar Kuna, salah satu event dalam Festival Budaya Dawuhan. Meski namanya Kuna, namun pembayaran dilakukan dengan uang yang berlaku sekarang ini. Ini untuk membedakan dengan Pasar Lodrajaya, di Kecamatan Bawang yang menggunakan mata uang khusus” katanya.

Olahan bahan dasar singkong ini merupakan produk industri rumahan yang dikerjakan oleh hampir semua warga desa Dawuhan. Olahan utamanya dijadikan gethuk. Masih dalam wujud tradisionalnya bulat dan berwarna putih. Selain gethuk, tempe merupakan produk unggulan lainnya desa Dawuhan.

“Hanya saja kalau pengrajin tempe hanya ada di dua Kadus, yaitu Dawuhan I dan Dawuhan II” katanya.

Gunungan Tempe diarak dalam Festival Budaya Dawuhan

Wisata Dawuhan memiliki obyek wisata tubing di sungai Panaraban, gazebo yang berlokasi di pinggiran sungai, kolam renang, tempat tempat menarik untuk selfie, ngopi Tepar  (Tepi Panaraban), dan juga lokasi untuk outbond. Di dalam pengembangannya dua potensi unggulan desa industri rumahan gethuk dan tempe, menjadi salah satu menu yang dipasarkan dalam paket destinasi wisata obyek dawuhan. Paketnya adalah wisata minat khusus.

“Wisatawan yang memilih paket ini akan tinggal di homestay. Mereka menyatu menjadi bagian dari kehidupan warga Dawuhan. Termasuk paket belajar membuat gethuk dan tempe yang menjadi daya tarik tersendiri” katanya.

Kepala Desa Dawuhan Sakim menyampaikan apresiasi kepada panitia dan masyarakat atas keseriusan penyelengaraan event gelar seni budaya Dawuhan. Dia mengaku senang pengembangan pariwisata Dawuhan mengajak serta warga masyarakat dengan adanya homestay dan wisata minat khusus belajar membuat gethuk dan tempe.

“Saya senang sekaligus tidak menyangka, saat dikemas dengan baik membuat gethuk dan tempe yang merupakan keseharian warga Dawuhan serta hal yang sangat biasa bagi warga, ternyata ada nilainya dalam dunia pariwisata” katanya.

Oleh karena itu, Sakim berharap Festival Budaya Dawuhan ini dapat menjadi event tahunan yang didukung oleh Pemerintah Daerah.

Camat Wanayasa Yogo Pramono hadir mewakili Bupati dalam sambutanya mengapresiasi atas penyelenggaraan event Gelar seni Budaya Dawuhan yang terkolaborasi antara seni budaya, produk unggulan dan obyek wisata.

“Ke depan untuk dikemas lebih menarik guna memikat wisatwawan lebih banyak lagi. Tidak hanya wisatawan lokal, namun upayakan wisatawan dari luar daerah” katanya. (Peliput : Udien / ed DS)