DS – Jembatan Banagara di Jalan Mantrianom Kecamatan Bawang amblas sekitar pukul 10.00 WIB, Kamis (4/4/2019). Beruntung, jembatan dengan konstruksi gorong-gorong besar itu runtuh saat jalanan sepi, sehingga tidak ada korban jiwa. Bupati Banjarnegara Budhi Sarwono bersama Sekretaris Daerah, Wakapolres, Kepala Dinas Perhubungan, BPBD, Camat dan Muspika Kecamatan Bawang langsung menuju lokasi bencana. Sementara warga terus berduyun-duyun datang ingin menyaksikan dari dekat, meski garis polisi sudah dipasang di kedua tepi jembatan yang amblas itu.

Jembatan Banaraga Mantrianom putus total

Bupati Budhi Sarwono menerangkan, lebar jalan yang amblas sudah diukur 10 meter, sedang panjang jembatan sekitar 15 meter. Di bawahnya mengalir sungai Blimbing yang cukup deras.
Budhi Sarwono kemudian melakukan koordinasi singkat di lokasi. Beberapa saat kemudian alat berat tiba untuk meratakan longsoran. Bupati juga merencanakan akan membangun jembatan kecil yang bisa dilalui kendaraan kecil.
“Untuk penanganan permanen tentunya membutuhkan waktu, jadi kami rencanakan akan membuat jembatan kecil dulu yang bisa dilalui warga dan kendaraan kecil,” lanjutnya.

Lokasi tersebut, kata Budhi, merupakan salah satu titik yang dulu akan diportal, karena sering dilalui kendaraan over tonase.
“Sejak tahun 2018 saya sudah memerintahkan dinas terkait untuk memasang portal salah satunya di sini untuk membatasi truk tronton dan kendaraan besar roda sepuluh atau lebih yang melebihi kapasitas untuk jalan ini,” kata Budhi di lokasi bencana.
“Tapi portal belum sempat dipasang jalan ini keburu ambles. Saya juga heran mengapa dinas tersebut tidak meneruskan perintah saya,” imbuhnya.

Dirinya juga menyayangkan sikap para pengusaha tambang yang tidak mau mendengakan himbauannya. Menurut bupati, kebijakan portal yang direncanakan tersebut untuk menjaga jalan dan bersama-sama menjaga keselamatan dan ketentraman warga.
“Lepas dari ini sebagai musibah dari Allah, tentu saja sebagai manusia kita wajib ikhtiar. Kami sudah mengkaji kekuatan jalan di jalur ini, sehingga kami simpulkan harus diportal. Jadi itu bukanlah arogansi saya sebagai bupati. Nah kalau sudah terjadi seperti sekarang, siapa yang bertanggung jawab?” ujarnya.

Sementara itu perwakilan pengusaha tambang yang dihubungi Camat Bawang Siti Januariah melalui telepon, Iwan Manembah, sedang berada di Jakarta. Yang datang adalah pengusaha lain bernama Kusrin. Namun ketika didesak untuk dimintai tanggung jawabnya selaku pengusaha tambang yang memanfaatkan jalan ini, ia tidak bisa menjelaskan lebih jauh. Ia hanya berujar bahwa musibah itu sama sekali tak diduga.
“Namanya bencana alam kita semua tidak menginginkannya,” ujarnya singkat.

Tokoh masyarakat setempat, Gus Hamzah, juga meminta Pemerintah mengambil tindakan strategis karena jalan ini merupakan jalan ekonomi warga.
“Kita kasihan anak-anak sekolah, warga masyarakat juga tukang rumput yang biasa membawa rambanan untuk ternak mereka dengan sepeda onthel. Kalau dihitung bisa 500 orang tukang rumput yang tiap hari melewati jalur ini,” kisah Gus Hamzah.

Tokoh masyarakat lain, Joko, menceritakan saat kejadian kondisi jalan sedang sepi. Truk-truk besar pengangkut pasir putih biasanya beroperasi malam hari.
“Kekuatan jembatan ada ukurannya, ada usianya. Jembatan tersebut sudah tidak mampu lagi menahan beban kendaraan over tonase yang lewat,” katanya. (Mujipras)