DS – Untuk mewujudkan demorkasi yang lebih baik, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Provinsi Jawa Tengah mengajak masyarakat aktif mengawasi jalannya Pemilu serentak 2019. Sebab pada hakekatnya, Pemilu yang baik terwujud karena dukungan kesadaran warga untuk mewujudkan demokrasi yang berkualitas. Lembaga pengawas seperti Bawaslu merupakan salah satu keistimewaan pelaksanaan demokrasi di Indonesia Hal ini disampaikan anggota Bawaslu Provinsi, Gugus Risdiyanto, dalam Sosialisasi Pengawas  Partisipatif  yang diselenggarakan Bawaslu Provinsi di Ruang Rejasa Surya Yudha Park.

“Di Negara yang demokrasinya maju, pengawas pemilunya ya masyarakat. Tidak dibentuk lembaga-lembaga khusus untuk mengawasi seperti di Indonesia. Pengawasan dilakukan oleh warga” katanya.

Namun hal ini dapat dimaklumi mengapa sampai sekarang lembaga pengawas masih diperlukan. Masyarakat belum siap untuk menyelenggarakan demokrasi yang baik. Mengacu pada sebuah penelitian dengan metode sampling in out pada jumlah sample ditentukan di Banjarnegara, data menunjukan mayoritas warga memilih karena uang.

“Namun di kelompok sample penelitian yang sudah sering menerima sosialisasi pemilu, diketahui 70% warga memilih karena program” katanya.

Apabila fakta penelitian tersebut dapat dijadikan kesimpulan, maka sosialisasi merupakan perangkat penting dalam penyelenggaraan pemilu. Sosialisasi penting untuk mendorong warga berpartisipasi dalam pemilu karena pilihan program. Bukan karena bujukan uang.

“Penyelenggara Pemilu dalam hal ini KPU harus rajin dan tak kenal lelah melakukan penyuluhan yang menjangkau semua lapisan masyarakat karena sosialisasi berperan penting membentuk kesadaran warga dalam menentukan pilihan” katanya.

 

Dosen Unika Soegijapranoto Semarang, Andreas mengatakan 20 tahun setelah reformasi demokrasi belum berjalan seperti yang diharapkan. Wacana kompetisi yang berkembang dalam ruang public menunjukan persaingan yang tidak sehat. Kalimat dan aksi yang dipilih isinya saling merendahkan antar kelompok. Di lapangan, politik uang masih sulit dihilangkan dari praktek politik. Namun, Andreas mengaku optimis pada saatnya demokrasi yang diharapkan dapat terwujud di Indonesia.

“Meskipun proses demokrasi hingga kini masih jauh dari yang diharapkan, namun saya pribadi masih optimis kita masih ada kesempatan untuk membangun demokrasi seperti yang diharapkan” katanya.

 

Ketua PWI Elis Novit tengah menyampaikan paparan dalam Sosialisasi Pengawas Partisipatif yang diselenggarakan Bawaslu Provinsi

 

Ketua PWI, Elis Novit mengatakan dalam kaitannya dengan Pemilu, tugas media ada dua yaitu mengawasi dan mengedukasi. Mengawasi pelaksanaan pemilu 2019 agar tetap dalam relnya yaitu dengan tetap komitmen untuk memberitakan kecurangan kepada public. Edukasi berupa penyebaran informasi tentang proses pemilu kepada khalayak.

“Publik berhak tahu bagaimana cara mendaftar sebagai pemilih, bagaimana cara memilih yang benar, bagaimana bila harus bepergian, dan seterusnya. Semua informasi tersebut disebarkan pada khalayak lebih luas lewat berbagai media televise, cetak, radio, dan online yang ada di Banjarnegara” katanya. (*_eKo / DS)