DS – Tradisi megengan merupakan tradisi mendoakan orang tua. Secara tradisi megengan dilaksanakan setiap tanggal 14 Bulan Sya’ban. Sedangkan dari sisi makna, megengan sendiri memiliki arti bahagia. Hal tersebut disampaikan Pimpinan Pondok Pesantren Tanbighul Ghofilin Ali Baa, Gus Khayat, selaku tuan rumah kegiatan megengan.

“Dalam tradisi megengan warga berkumpul untuk mendoakan orang tuanya baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, jadi ini tradisi yang baik sekali,” kata Gus Khayat, Sabtu (20/04).

 

Kegiatan yang dihadiri oleh Bupati bersama Kapolres dan Wakapolres ini diikuti oleh ratusan warga dari Dusun Banagara, Situmbu, Pesucen, dan Karanganyar Desa Mantrianom. Doa dan tahlil dipimpin oleh Kyai Faisol Hasanudin. Perayaan megengan diakhiri dengan makan tumpeng dan nasi kebuli khas Timur Tengah dalam suasana penuh keakraban

 

Bupati Banjarnegara Budhi Sarwono menyambut baik upaya melestarikan tradisi “Megengan” ini karena nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Utamanya adalah ajaran untuk menghormati dan mendoakan orang tua, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia.

 

Dia meningatkan  sebagai anak kita harus hormat orang tua. Karena Ridhlo Allah itu karena Ridlonya orang tua.

“Sehebat apapun kita, tak lepas dari didikan dan bantuan orang tua,” katanya.

 

Tradisi megengan, kata Budhi, penuh keteladanan dan kehangatan keluarga, saudara dan masyarakat.

“Saya berharap tradisi Megengan terus lestari,” katanya. (Muji Prasetyo / ed DS).