DS – Praktisi kehumasan di era milleneal ini harus kreatif. Tidak saja mengelola wujud komunikasinya namun juga konten komunikasi. Hal ini mau tidak mau harus dilakukan karena adanya perubahan di tengah masyarakat yang diakibatkan dari perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat.  Ini tentu harus diantisipasi oleh praktisi kehumasan, termasuk humas pemerintah. Pengabaian atas ini dapat menyebabkan kehumasan pemerintah ditinggalkan oleh masyarakat. Demikian disampaikan Dosen Jurusan Komunikasi FISIP Unsoed, Doktor Edi Santoso, Senin (22/04) pada Pertemuan Fokohumas di lantai 2 Sekda.

“Ada perubahan di kehidupan karena masifnya penggunaan internet. Kondisi ini ditunjang akses ke internet yang sangat mudah dan murah. Kondisi berubah dan banyak competitor sehingga humas harus kreatif” katanya.

 

Di era mileneal ini, hampir semua orang akrab dengan media online, baik email –termasuk mailing list (milis), situs web (website), blog, WhatsApp, Line, We Chat, Facebook, Twitter, Path, Instagram, serta media sosial atau jejaring sosial (social networking). Data Asosiasi Pengelola Jasa Internet tahun 2017 menyebutkan ada 143 pengguna telpon pintar di Indonesia dimana 97% nya merupakan pengguna medsos. Fenomena ini membawa pengaruh sendiri dalam hubungan kehumasan.

“Masyarakat yang dulu sukanya baca koran dan majalah, sekarang bergeser menjadi pencari berita di situs-situs berita internet. Masyarakat yang dulunya konsumen berita, bergeser menjadi penghasil berita melalui berbagai status dan informasi di medsos facebook, twiter, dan seterusnya. Pada akhirnya, konsumen berita itu sekarang berubah menjadi pelakunya” katanya.

 

Kepala Dinas Kominfo Drs. Suyatno, MM, tengah memberi pengarahan saat membuka Pertemuan Fokohumas didampingi sebelah kiri Kabid Penyelenggara Pelayanan Komunikasi dan Informasi Publik Taufik dan kanan, narasumber Dosen Jurusan Komunikasi FISIP Unsoed DR. Edi Santosa

 

Kepala Dinas Kominfo, Suyatno, saat membuka pertemuan Fokohumas mengingatkan dulu, suatu informasi sampai ke masyarakat di daerah bisa makan waktu berhari-hari dan dari satu sumber informasi. Sekarang ini gambaran itu berubah total. Informasi sekarang ini sangat cepat penyebarannya, mudah diakses dan tidak hanya dari satu sumber informasi.

“Pada saat ini, karena kemajuan teknologi Informasi kejadian yang ada di Jakarta ataupun di luar negeri dalam hitungan detik bisa sudah sampai di daerah. Kecepatan penyebaran informasi ini tentu perlu dicermati selaku pelaku humas” katanya.

Di sisi lain, kecepatan dan kemudahan informasi untuk dibagi ini selain memberi dampak positif ternyata melahirkan dampak negative pula. Pada era kini, hampir semua informasi, baik narasi,  foto, maupun video dengan mudah dan cepat dishare ke berbagai pihak. Namun hal ini mengandung bahaya bila informasi yang disebar tersebut mengandung unsur yang tidak pantas, SARA, fitnah, pornografi, porno aksi, ataupun berita bohong. Disinilah diperlukan adanya pengetahuan untuk memfilter informasi sebelum membagikannya.

“Nanti ada materi pengenalan terhadap masalah ini, sehingga para peserta memperoleh pengetahuan membedakan dan memilah mana informasi yang perlu dibagi atau dibuang” katanya.

 

Sementara itu, Ketua Pelaksana Kegiatan, Taufik Muarof, Kabid Penyelenggaraan Komunikasi dan Informasi Pelayanan Publik melaporkan Pertemuan Kehumasan dilaksanakan selama 2 hari dan diikuti 50 peserta dari OPD dan Kecamatan-Kecamatan. Kegiatan akan dilaksanakan selama 2 hari dengan nara sumber hari pertama Dosen Unsoed dan hari Kedua dari Provinsi. Nara sumber hari pertama pengajar Jurusan Komunikasi FISIP Unsoed Dr. Edi Santoso. Hari kedua nara sumber Kabag Humas Lilik Hendri Ristanto, Kabag Humas dan Protokol Biro Umum Sekda Provinsi.

“Harapannya, pertemuan Fokohumas ini mampu melahirkan Humas pemerintahan yang mampu beradaptasi dengan era medsos dan memanfaatkannya secara positif untuk kepentingan kehumasan pemerintah” katanya.  (**_eKo)