DS – Aktivitas dakwah Penyuluh Agama Islam selama ini masih mengandalkan hanya pada satu metode yaitu pertemuan tatap muka. Padahal ada peluang yang lebih luas jangkauannya dan lebih abadi materinya yakni dakwah lewat tulisan. Apalagi di era Revolusi 4.0 ini yang telah menghadirkan beragam sarana untuk memudahkannya. Semestinya kemajuan teknologi informasi ini dapat dimanfaatkan secara cerdas dan bijak oleh para penyuluh agama Islam.

“Buatlah tulisan semua kegiatan yang dijalani, selain bisa berfungsi untuk dokumentasi dan arsip, tulisan tersebut dapat dipublikasikan ke luar sebagai syiar agama Islam.” kata Kepala Kemenag Banjarnegara, Masdiro, Kamis (25/04) saat membuka kegiatan Pembinaan dan Peningkatan Kompetensi Penyuluh Agama Islam di aula Kemenag.

 

Peserta Pembinaan dan Peningkatan Kompetensi Penyuluh Agama Islam antusias mendengarkan materi

 

Tulisan bisa dipublikasikan lewat web milik Kemenag Banjarnegara, Web milik Kemenag Wilayah, dan bila memungkinkan dipublikasikan di media mainstream. Selama ini Banjarnegara terhitung masih  sangat rendah dalam memanfaatkan media untuk sarana publikasi. Paling tidak hal ini bisa dilihat pada pasokan informasi di web kemenag Banjarnegara dan web Kanwil Kemenag.

“Terus terang, kondisi ini cukup memprihatinkan. Ada tuntutan dari Kanwil untuk meningkatkan partisipasi penulis-penulis daerah mengisi web. Harapan kami, acara ini mampu memotivasi dan melahirkan banyak penulis berita” katanya.

Dia menambahkan, hal lain yang perlu dipertimbangkan para penyuluh agama Islam bahwa masyarakat sekarang ini sedang mengalami perubahan yang diakibatkan kemajuan teknologi informasi. Perubahan tersebut ada yang berdampak positif dan ada pula negatifnya. Positifnya dalam berkdawah kemajuan teknologi makin membuat dakwah menjadi lebih menarik. Namun sisi negafitnya, globalisasi ternyata membawa pengaruh buruk terhadap kehidupan.

“Istilah kami 3 D. Masyarakat mengalami dehumanisasi, demoralisasi, dan deorganisasi. Semua hal diukur dengan materi. Etika dan sopan santun luntur. Kehidupan menjadi sangat hedonis. Dan marak narkoba serta pergaulan bebas merajalel. Hal tersebut merupakan tantangan besar bagi para penyuluh agama Islam” katanya.

Narasumber Penulisan Jurnalistik dari Dinas Kominfo Banjarnegara, Eko Budi Rahardjo mengatakan kalau belum menjalani dan kemudian terbiasa, menulis berita sepertinya merupakan suatu pekerjaan sulit. Padahal seperti halnya ilmu-ilmu lain, menulis berita pun bisa dipelajari. Bahkan bagi sebagian orang menjadi sangat mudah.

“Menulis memang ada ilmunya, namun itu bukan hal sulit karena mudah mempelajarinya. Apalagi rata-rata penyuluh agama Islam memiliki latar belakang pendidikan pondok pesantren dan semuanya lulusan SLTA sederajat serta di atasnya. Tinggal kemauan dan kebiasaan” katanya.

Semestinya peluang bagi para penyuluh agama Islam untuk menulis lebih besar. Ini karena pekerjaan penyuluh berdakwah dan menyampaikan materi keagamaan pada berbagai kelompok masyarakat. Jadi banyak kegiatan yang bisa ditulis, tinggal kemauan saja.

“Format penulisannya sederhana dengan menggunakan rumus 5 W+ 1 H. Kalau sulit ya pertanyaanya pakai Bahasa Ibu. Nu acara apa, nangdi tempate, kapan iku, sapa sing nganakna, kenang apa dianakna acara iku, sapa bae sing teka, sing ngendika sapa bae trus ngendika apa. Kalau yang ini cukup yang pokok saja. Terakhir, priben kue acarane jal critakna” katanya.

Nah, jawaban atas semua pertanyaan itu dituliskan dan disusun dengan baik. Tidak usah panjang-panjang. Tiga sampai empat paragraph cukup

“Jangan lupa untuk menyertakan foto kegiatan. Tujuannya agar redaksi bisa memilih foto yang bagus untuk diterbitkan. Karena itu kirim jangan satu foto. Upayakan mengirim 3 – 5 foto dengan sudut pengambilan berbeda” katanya.

Ketua Panitia Pelaksana, Kasi Binmas pada Kemenag, Ali Mustofa menambahkan kegiatan Pembinaan dan Peningkatan Kompetensi Penyuluh Agama Islam dilaksanakan selama satu hari. Nara sumber Pelatihan Menulis Jurnalistik diisi oleh Eko Budi Rahardjo. Sedangkan narasumber broadcast diisi oleh Kasmun atau yang lebih dikenal dengan Kak Bimo dari Suara Banjarnegara. Pengisi materi ketiga Soif Toif penyuluh Agama Islam senior dari Kemenag.

“Peserta merupakan seluruh penyuluh agama Islam PNS dan Non PNS dengan jumlah 178 peserta” pungkasnya. (**_eKo / DS)