DS – Budhi Sarwono yang juga Bupati Banjarnegara Kamis (09/05) hadir di Pengadilan Negeri Banjarnegara sebagai saksi pada sidang pidana kasus Mafia Bola. Budhi tiba di Pengadilan lewat pintu samping pada pukul 09.40 WIB langsung masuk ke ruang tunggu. Selang dalam hitungan detik, menyusul putrinya Laksmi Indrayani Mantan Manajer Persibara ditemani kerabat.

 

Sementara menantunya I Putu Dodi Mangkikit Ketua Persibara, dan Wakil Manajer Persibara Mukodam datang dengan kendaraan terpisah membuntuti di belakangnya. Mereka memilih memasuki gedung pengadilan negeri dari pintu utama. Begitu turun dari mobil, rombongan ini langsung disambut massa pendukung.

 

Kehadiran Budhi dan rombongan, selang beberapa menit usai kedatangan enam terdakwa Mafia Bola Johar Lin Eng Ketua Asprov Jawa Tengah, mantan anggota komite wasit Priyanto dan anaknya, Anik Yuni Artika Sari, anggota Komisi disiplin PSSI Dwi Irianto alias Mbah Putih, Direktur Penugasan Wasit PSSI Mansyur Lestaluhu dan wasit pertandingan Nurul Safarid.

 

Pelaksanaan Sidang

Pelaksanaan sidang siang itu dimulai pada kisaran pukul 10.00 wib di dua tempat sidang. Bupati menjalani sidang di Ruang Kartika menjadi saksi Jaksa Penuntut Umum (JPU) Sdr Taupik Hidayat, Dipo Iqbal, Yuniati, dan Setiati dengan Majlis Hakim Rudito Surotomo, Fitriana Septriana, dan Angelia Renata. Terdakwa dalam kasus ini adalah Tjan Lin Eng alias Johar Lin Eng.

Budhi Sarwono, Bupati Banjarnegara, jadi saksi Johar Ling dalam kasus mafia bola

 

Sedangkan Laksmi Indriyani, Dodi, dan Kodam di Ruang Cakra menjadi saksi JPU Taupik Hidayat, Setiati, dan Fauzan Eka Prasetia dengan Majlis Hakim R Heddy Bellyandi, Farida Pakaya, dan Refi Damayanti. Terdakwa dalam kasus ini adalah Priyanto alias mbah Pri dan Anik Yuni Artikasari alias Tika.

 

Laksmi, Dodi, dan Kodam sebagai saksi mBah Pri dan Tika dalam kasus mafi bola

 

Budhi yang merupakan mantan Ketua Asosiasi Kabupaten (Askab) PSSI Banjarnegara sekaligus ayah dari Laksmi Indiriyani pelapor kasus mafia bola menceritakan di hadapan sidang kronologi terjadinya kasus mafia bola. Budi menceritakan dari awal bagaimana dirinya sampai kenal dengan Tika dan berkaitan dengan kasus penipuan yang berujung pelaporan ke Satgas Mafia Bola.

“Awalnya saya tidak kenal. Yang banyak berhubungan justru anak saya. Saya lebih sering menerima laporan dari anak” katanya.

Hal tersebut ada kaitannya karena tugas mengelola persebakbolaan Banjar sudah saya serahkan ke Laksmi.

“Kalau ndak salah pertama berhubungan setelah pertandingan melawan Kediri. Di situ ada pembicaraan menjadikan Banjarnegara sebagai tuan rumah kompetisi bola PSSI. Nah, sebagai warga Banjar yang ingin Banjar terkenal tentu kabar itu merupakan informasi menarik. Karena itulah ditanya syarat dan ketentuannya bagaimana?” katanya.

 

Untuk naik kelas, persepakbolaan Banjarnegara harus berani menjadi tuan rumah kompetisi PSSI. Hanya saja untuk ini diperlukan sejumlah syarat termasuk menyerahkan sejumlah uang. Namun setelah syarat dipenuhi, Banjarnegara tidak pernah menjadi tuan rumah.

“Alasan ini yang mungkin mendasari pelaporan Laksmi, karena Dia merasa tertipu dari niatanya ingin memajukan sepakbola Banjarnegara. Dalam catatan saya, tak kurang Laksmi telah menghabiskan Rp 1,3 M untuk urusan ini” katanya.

 

Keterangan yang hampir sama dimintakan dari saksi pelapor Laksmi Indiriyani. Laksmi pun menceritakan kronologi dari awal pertemuan hingga terjadinya kasus pelaporan ini.

Selesai sidang pertama, Budhi dan saksi-saksi lainnya mengikuti jalannya sidang dengan terdakwa yang berbeda. (*_eKo / ed DS)