DS – Berbeda dalam memilih pemimpin itu wajar. Sebab tidak semua orang sama pilihannya. Paling tidak, munculnya calon-calon pemimpin itu sendiri telah menunjukkan adanya beda itu sendiri. Yang penting perbedaan itu, jangan menjadi alasan untuk pertikaian.

“Perbedaan pilihan itu wajar dalam demokrasi seperti halnya dalam Pemilu 2019. Namun, perbedaan tersebut jangan menjadi alasan untuk bertikai. Dan saat semua telah selesai, maka kini merupakan waktunya untuk persatuan dan kesatuan,” kata Sekretaris Daerah Indarto Jumat malam di hadapan jamaah Tarawih Keliling Forkompinda di Masjid Al Hidayah, Dusun Gembongan, Desa Darmayaksa, Kecamatan Pejawaran.

 

Biarlah urusan Pemilu 2019 yang masih ada, kita serahkan kepada KPU, Bawaslu, dan Lembaga resmi yang berkaitan dengannya. Hasil resminya seperti apa, kita tunggu bareng-bareng dengan sikap arif dan bijak. Sekarang, kata Indarto, adalah waktunya memikirkan kembali urusan kita sendiri. Salah satu yang dalam waktu dekat akan dilaksanakan adalah Pemilihan Kepala Desa serentak. Dimana untuk wilayah Pejawaran akan dilaksanakan pada tanggal 31 Juli di 9 desa.

“Pesan saya, beda pilihan pasti akan terjadi. Tetapi ingatlah, ini hanyalah proses dan sarana untuk memilih pemimpin. Urusan kita akan lebih banyak dan lebih lama lagi usai pilihan. Hidup terus berlanjut. Jangan jadikan pilihan itu segala-galanya. Boleh beda, namun jangan jadikan beda pilihan itu alasan untuk pertikaian apalagi sampai bercerai berai” katanya.

 

Camat Pejawaran, Aswan menambahkan wilayahnya terdiri dari 17 desa. Pada pelaksanaan Pilkades serentak tanggal 31 Juli 2019 mendatang, 9 dari 17 desa yang ada akan melaksanakannya. Ke 9 desa tersebut adalah Kalilunjar, Giritirta, Penusupan, Tlahab, Pejawaran, Condongcampur, Sidengok, Grogol, dan Gembol.

“Harapan kami, Pilkades 9 desa berlangsung lancar, aman dan damai” katanya.

 

Ketua MUI H. Fahmi Hisyam tengah memberi materi pengajian dalam Tarling Forkompinda di Masjid Al Hidayah, Ds Gembongan, Desa Darmayaksa, Kecamatan Pejawaran

 

Ketua MUI, Ustadz Fahmi Hisyam, pengisi materi pengajian Tarling mengingatkan di desa-desa biasanya ada ormas Islam diantaranya NU, SI, Muhammadiyah, dan organisasi lain. Perbedaan organisasi bukan berarti mengokohkan perbedaan, namun sarana untuk membina persatuan dan kesatuan. Karena itu, Dia berharap peran dari pemimpin ormas untuk menjaga pilar perdamaian desa.

“Peran pemimpin ormas, alim ulama, dan tokoh masyarakat sangat besar dalam ikut menjaga Pilkada aman dan damai” katanya.

 

Pada kegiatan Tarling Forkompinda di Masjid Al Hidayah, Gembongan ini diserahkan batuan untuk Masjid dari Baznas uang sebesar Rp 2 juta, Kemenag berupa Al Qur’an, dan dari Bank Jateng berupa sarung dan mukena. Bantuan diserahkan oleh Sekda, perwakilan Baznas, dan ketua KUA Pejawaran dan diterima langsung Ketua Takmir. (*_eKo / DS)