DS – Majlis Ulama Indonesia (MUI) Banjarnegara melakukan studi banding ke Islamic Center Surabaya selama 2 hari (22 – 23/06). Permasalahan yang ingin dikaji adalah perihal pendirian IC dan pengelolaannya. Hal ini berkait dengan program MUI Banjarnegara yang ingin mendirikan IC di Banjarnegara sebagai pusat dakwah umat Islam.

“Di IC itu nantinya akan menampung berbagai lembaga seperti kantor MUI, kantor BAZNAS, kantor DMI, kantor LPTQ, dan ada kegiatan kursus Bahasa Arab, Bahasa Inggris, Kursus keterampilan, serta perpustakaan digital yang representative” kata Ketua MUI, M. Fahmi Hisyam, Minggu (23/06) di sela-sela kunjungan.

 

Gedung Utama Islamic Center Surabaya memiliki tiga lantai dan aulanya dapat menampung 2000 orang

 

Hal lain yang ingin diketahui adalah status asset, status kepegawaian, struktur pengelolaan, fungsi dan tugas, sistem pengelolaan keuangan, program kerja, kegiatan rutin, peranan ormas-ormas Islam terhadap IC, luas bangunan, fasilitas gedung, dan peranan pemerintah terhadap IC.

“Sekilas dari kajian yang didapat bahwa untuk mendirikan IC dibutuhkan lahan yang luas, minimal 3 hektar, lebih dari ini lebih baik. Luasnya lahan diperlukan untuk mendirikan gedung-gedung pendukung yang representative dan juga untuk menampung kegiatan umat dalam jumlah besar” katanya.

Tentunya fasilitas gedung tersebut juga harus didukung dengan fasilitas pendukung modern yang representative yang berkesesuain dengan kebutuhan dan kemajuan jaman.  Bagaimana mewujudkan program ini tentu pemahaman dan persetujuan stake holder, utamanya pemerintah kabupaten.

“Harapan kami, program IC ini segera dapat terwujud di Banjarnegara. Tentang bagaimana realisasinya bisa dipertemukan antara pemerintah daerah yang memiliki asset dan kekuasaan disinkronkan dengan sumber daya umat Islam, baik yang ada di daerah maupun yang ada di luar daerah, termasuk yang ada di luar negeri” katanya.

 

Suasana dialog rombongan MUI Banjarnegara dengan Pengelola Islamic Center Surabaya

 

Pengurus IC Surabaya, Soenaryo menjelaskan bahwa IC Surabaya didirikan tahun 1976 dengan biaya Rp 4,5 M. Gagasan ini muncul usai pelaksanaan MTQ Nasional. Luas tanah IC 31.000 m2 yang digunakan untuk membangun gedung utama, asrama tiga gedung dengan satu gedung berlantai 3, lapangan tenis, ruang makan, gedung PAUD, gedung TK.

“Asset gedung dimiliki oleh Pemprov, pengelolaan oleh pemprov, pengelola merupakan pegawai pemprov, dan anggaran pemeliharaan juga dari Pemprov. Untuk membantu biaya perawatan, sejak beberapa tahun lalu aula gedung utama yang mampu menampung 2000 orang dikomersialkan untuk berbagai keperluaan diantaranya hajatan, diklat kepegawaian, dan rapat-rapat besar organisasi” katanya.

Gedung utama yang terdiri dari tiga lantai, selain aula juga menjagi pusat perkantoran pengelola gedung, sebagai kantor MUI, BAZNAS, DMI, kantor LPTQ, kantor LPPD, Bakomobin, dan lainnya.

“Secara periodic ada kegiatan dari masing-masing organisasi semua kami fasilitasi. Di gedung yang sama juga ada kursus Bahasa Arab, kursus baca tulis Al Qur’an, sarana untuk pelatihan-pelatihan keagamaan, dan dukungan perpustakaan” pungkasnya. (*_eKo / DS )