DS – Pelukan erat jelang keberangkatan, tangis yang memilukan dari sanak keluarga dan kerabat yang ditinggalkan, serta salam perpisahan saat Bus mulai meninggalkan komplek Pendapa Dipayuda Adigraha menjadi warna dominan sepanjang keberangkatan jamaah calon haji Kabupaten Banjarnegara tahun 2019. Belum lagi puluhan kendaraan pengantar terpakir di sepanjang kanan-kiri jalan Dipayudha, Jalan A. Yani, seputaran alun-alun, dan jalan barat Telkom.

 

Polisi melakukan penutupan jalan sejak pertigaan jalan Sunan Gripit. Ini untuk mengalihkan  arus lalu lintas dari arah Karangkobar. Dari arah timur, penutupan melalui pertigaan jalan depan Baperlitbang, sedangkan dari arah barat dimulai dari pertigaan depan Lucky Optic.

 

Pada akhirnya, yang selalu hadir saat keramaian, pedagang K5 yang menjamur memenuhi setiap sudut tanah lapang. Bahkan mereka sudah bersiap satu hari jelang kegiatan.

 

Keluarga, Kerabat, dan warga masyarakat melambaikan tangan sebagai salam terakhir saat keberangkatan rombongan menuju Asrama Haji Donohudan, Boyolali.

 

Rangkaian pelepasan jamaah Kloter 74, Sabtu (27/07) diawali dengan apel pemberangkatan. Urutan seremoni dimulai penyerahan bendera merah putih dan lambang daerah secara simbolis dari Wakil Bupati Banjarnegara, Syamsudin kepada Tim Pembina Haji Daerah. Kegiatan ini dilaksanakan di depan pintu gerbang masuk Rumah Dinas Bupati. Kemudian dilanjut doa dan sambutan dari Wabup.

 

Wabup berpesan pada kepada jamaah untuk ikut juga mendoakan Kabupaten Banjarnegara menjadi wilayah yang subur, makmur, dan warganya sejahtera, baldatun, thoyibatun, wa rofun ghofur.

“Jamaah berdoa di tanah suci, sedangkan warga Banjarnegara berdoa untuk kesempurnaan ibadah serta kesehatan dan keselamatan jamaah dari tanah air. Semoga kelak menjadi haji yang mabrur dan mabruroh” katanya.

 

Terpisah, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banjarnegara. Masdiro mengatakan Calon Jemaah Haji (Calhaj) tahun 2019 M/1440 H berjumlah 784 orang. Jumlah tersebut di bagi menjadi 4 kelompok terbang (kloter). Kloter 72 (180 orang) bergabung dengan Kabupaten Purbalingga, kloter 73 (full-355 orang), kloter 74 (242 orang) bergabung dengan kabupaten Cilacap dan kloter 95 (7 orang-sapu jagat).

“Ada 1 orang calhaj di kloter 95 meninggal dunia. Sehingga tinggal 6 orang” katanya. (*_eKo / DS)