DS – Java Coffe Festival menjadi menu baru pada gelaran Dieng Culture Festival X. Kegiatan yang dilaksanakan pada hari kedua DCF X ini dipusatkan di Lapangan Pandawa. Peserta festival terdiri dari pelaku kopi mulai dari hulu ke hilir. Di dalam kegiatan ini terlibat petani dan pengolah kopi hingga pelaku industri seperti barista, roaster, dan pengusaha kedai kopi yang berasal dari pula Jawa.

“Kegiatan ini tujuannya untuk mendukung, memajukan, dan mengenalkan kopi khas Banjarnegara yaitu Kopi Robusta dan Kopi Arabika” kata Sekretaris Daerah Indarto, Sabtu (03/08) saat memberikan sambutan mewakili Bupati.

Selain itu, kegiatan ini juga dimaksudkan untuk mengajak masyarakat agar ikut melestarikan kopi nusantara demi meningkatkan perekonomian sekaligus menambah daya tarik wisata. Di sisi lain, ada hal menarik dari fenomena kopi di era milenial sekarang ini. Dimana penikmat kopi bukan hanya terbatas pada kaum adam, namun banyak dari penikmat kopi datang dari kaum hawa.

“Kopi sekarang ini tidak lagi mencitrakan hanya untuk laki-laki dan berusia dewasa. Di era sekarang ini penikmat kopi banyak dari mereka malah generasi muda, baik laki-laki maupun perempuan. Bahkan di era industri kopi ini justru mereka menjadi tulang punggung perkembangan industri kreatif ini” katanya.

 

Suasana salah satu stand coffe pada Java Coffe Festival DCF X di Lapangan Pandawa, Dieng Banjarnegara, Sabtu (03/08)

 

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto, Agus Chusaini menambahkan pihaknya tertarik mengembangakan industri kopi namun dengan syarat harus dilakukan dari hulu ke hilir, bahkan sampai tingkat pemasarannya. Hal ini agar petani mendapatkan hasil yang layak dalam proses ini.

“Pola seperti inilah yang selama ini dikembangkan di Kabupaten Banjarnegara. Bantuan yang diberikan dari mulai bibit, pelatihan barista, pengelolaan pasca panen, hingga membantu pemasaran kopi” katanya.

 

Koordinator DCF X, Ketua Pokdarwis Dieng Pandawa, Alif Fauzi mengatakan festival Java Coffe ini merupakan menu baru pada gelaran DCF X. Pilihan pada kopi sebab industri kreatif kopi ini memiliki masa depan yang baik mengingat kuliner menjadi salah satu penyumbang terbesar devisa dalam dunia pariwisata.

“Kuliner membedakan dari cindera mata yang wujudnya tahan lama, sebab orang beli cindera mata untuk disimpan dalam jangka panjang. Namun di bidang kuliner tansaksinya akan lebih sering sebab dikonsumi  sehingga perputaran ekonominya lebih cepat dan dampaknya lebih terasa di masyarakat” katanya.

 

Juara Barista Indonesia tahun 2018, Muhammad Aga, salah satu pembicara dalam diskusi di Java Coffe Festival mengatakan kegiatan Festival kopi yang dilaksanakan di Dieng merupakan yang pertama kalinya dilaksanakan di Indonesia. Karena itu, Dia sangat mengapresiasi gagasan panitia. Harapanya, tahun depan kegiatan ini juga muncul lagi di agenda DCF XI.

“Biasanya Festival kopi dilaksanakan di gedung-gedung. Namun beda untuk Java Coffe Festival DCF X yang dilaksanakan di daerah dingin dan di lapangan rumput” katanya. (*_eKo / ed DS)