DS – Ibu Santi (45 th) warga Bakal, Batur, menyeruak diantara kerumunan jamaah haji yang baru turun dari bus penjemput. Suara teriakan anak ketiganya Rafa menuntunnya menuju ke arah sumber suara. Sang suami dan tas bawaan pun ditinggalkan begitu saja ditengah kerumunan. Dia terus berupaya menemukan sumber suara, dengan rona muka yang telah berubah merah. Tak terasa, emosi internal keluar ekspresinya.

“Ibu. Ibu. Ibu…Sebelah sini Bu….” teriak Rafa dari luar pagar pembatas penjemput jamaah.

Sebenarnya suara ini sering terdengar di keseharian, namun kali ini terdengar mencekat rasa. Rupanya, empat puluh hari tidak bertemu mampu mengaduk emosi jiwa. Segala rasa ada di dalam dada. Kangen dan sayang, lembutnya hati, sedih, takut, rindu, ingin di sayang, marah, sepi, emosi religi, dan gembira. Maka begitu ketemu Rafa, hanya ada peluk sangat erat dan tangis.

“Entahlah Mas…saya tidak tahu bagaimana melukiskan rasa di dada. Campur aduk..” katanya.

 

Ibu Santi mencium pipi anak bungsunya Rafa disertai tangis dan kerinduan

 

seorang kakek dikerubut pelukan rindu tiga cucunya

 

Santi terus melakukan beberapa aktivitas lain diantara kerumunan penjemputnya. Namun derai air mata masih saja belum berhenti menets di pipi. Sementara tangannya memeluk erat terus anak bungsunya Rafa, sesekali dicium kembali pipi anaknya itu.

“Maaf nangis…tapi saya jadi lega” imbuh Santi.

Hal seperti ini pula yang dialami Siti Tatu Ugiyani (53 th), warga Pucang, Banjarnegara. Kalau Santi rindu akan anak kandungnya, maka Tatu pada cucunya Aini. Usianya baru dua tahun, namun selalu membuat kedua kakek neneknya terngiang terus akan ridun keluarga.

“Iya ini cucu saya. Aku kangen, dan dia pun kangen. Akungnya juga kangen. Malah anak sendiri tidak begitu dikangeni dibanding cucu” katanya.

Di dalam situasi seperti ini, Santi dan Tatu tidak sendiri. Pemandangan ini sepertinya jamak dalam setiap penjemputan jamaah haji setiap tahunnya. Peristiwa ini seperti sumur religi yang tiada habisnya. Tangis dan pelukan menjadi pemandangan wajar sekaligus mengharukan. Tidak saja dari sanak keluarga, namun dari mereka para kawan dan tetangga. Ada harapan tersampaikan dari para penjemput, “Doakan saya untuk sampai ke tanah suci”.

 

Tangis bahagia dan pelukan penuh rindu warnai penjemputan jamaah haji

 

tangis bahagia dan pelukan rindu warnai perjumpaan jamaah haji dengan sanak keluarga

 

Arti Tangis dalam Psikologi

Lalu apa arti tangis itu sendiri, apakah hal itu suatu kecengengan atau sebaliknya justru ada manfaatnya. Menurut situs https://dosenpsikologi.com/fakta-psikologi-tentang-menangis, menangis ternyata memiliki manfaat psikologi. Bahkan ada ada 13 manfaat dari tangis. Tiga diantaranya yang berkait erat dengan berita ini.

Melegakan Perasaan. Semua orang setuju bahwa setelah menangis, beban yang kita rasakan menjadi terasa ringan. Walaupun masalah yang kita hadapi adalah masalah yang paling berat dalam hidup, namun saat kita selesai menangis, perasaan lega akan muncul. Perasaan lega akan membuat aktivitas anggota tubuh terutama otak dan jantung menjadi lancar karena menangis.

Memberikan Ketenangan Sebuah penelitian di Amerika dan Belanda sudah membuktikan bahwa kebanyakan orang akan merasa tenang dan lebih baik pasca mereka menangis. Satu dari 10 orang saja yang merasakan kebalikannya. Maka, sudah terbukti bukan bahwa dengan menangis akan membuat kita menjadi tenang dan lebih baik.

Memperkuat Hubungan Kita telah mengetahui bahwa ketika seseorang tengah menanagis menandakan bahwa ia sedang menujukkan apa yang sedang ia rasakan. Hal ini tentu saja kana menimbulkan perasaan iba atau kasihan dari orang lain yang melihat kita sedang menangis. Dengan membuat orang lain iba ini akan semakin memperkuat hubungan persaudaraan atau hubungan sebagai pasangan diantara orang yang menangis dan orang yang melihatnya. (*_eKo / ed DS)