DS – Singkong merupakan sumber pangan tambahan yang disukai setelah padi-padian dan jagung. Singkong dikonsumi oleh manusia dalam wujud olahan seperti aslinya berupa singkong rebus, singkong goreng, singkong manis, maupun dibentuk makanan olahan seperti getuk, kelanting, combro, dan ondol. Adapula yang dibuat gaplek lalu dijadikan tepung, maupun yang terkini melalui teknik fermentasi untuk dibuat tepung mocaf. Ketika sudah menjadi tepung, materi ini bisa dibuat lebih banyak varian makanan modern misalnya berbagai produk kue dan cake.

 

Ibu-ibu tengah menggoreng ondol yang akan disambung sepanjang 1000 m

 

Di dalam khasanah pustaka kuliner tradisional ada satu jenis makanan berbahan baku singkong yang sangat populer di sejumlah wilayah di Banjarnegara. Bentuknya bulat seperti dan seukuran penthol bakso. Ada yang disajikan demikian adanya, namun ada yang ditusuk layaknya sate. Mungkin itu cara pembuatnya untuk menarik minat anak sehingga dibuatlah penampilan seperti makanan yang paling disukai anak-anak. Dan ondol, bagi warga Wanayasa adalah makanan ikonik. Dia dibuat dari singkong yang dilahirkan alam di bumi Wanayasa bersama tanah, air, udara, dan sejarah warganya.

 

Foto udara kegiatan Kuduran Budaya, penampilannya merubah image kampungan “singkong” menjadi modern

 

Warga Wanayasa memiliki cara pandang sendiri atas Singkong. Warga Wanayasa punya cerita sendiri tentang singkong. Warga Wanayasa punya cara sendiri dalam mengekspresikan tentang singkong. Dan itu diwujudkan secara apik oleh Komunitas Seniman Muda Wanayasa (Sendawa). Mereka punya narasi kreatif tentang singkong yang bernama Kuduran Budaya.

 

Singkong, Lambang Kemakmuran dan Keguyuban

Singkong di mata warga Desa Wanayasa Kecamatan Wanayasa merupakan lambang kemakmuran dan keguyuban yang selalu dirayakan melalui Kuduran Budaya. Kuduran Budaya menjadi ajang ejawantah dan ikrar kebanggaan warga terhadap jati diri sebagai ‘wong ndesa’. Begitupun dalam kemeriahan Kuduran Budaya yang menjadikan singkong sebagai simbol kebanggaan warga desa. Puncak acara Bentang Ondol menjadi penutup dari ritual budaya yang diprakarsai komunitas Sendawa dengan menyajikan ondol dalam bentangan 1000 meter, pada Minggu (30/09)

 

Ketua Sendawa Nono mengatakan, sebagai bentuk penghormatan terhadap kearifan lokal. Generasi muda yang tergabung dalam Sendawa merayakannya dalam Kuduran Budaya, yang tahun ini menjadi gelaran ke-11. Agenda utamanya antara lain Mlampah Samparan, Bedhul Singkong dan Bentang Ondol.

“Rangkaian ini merupakan kolosalisasi proses pembuatan biji ondol, dari pemilihan singkong terbaik, pemanenan, pembuatan hingga penyajian,” tuturnya.

Ondol, menurutnya, merupakan simbol dari kebersamaan. Untuk membuat sebutir ondol dibutuhkan peran dari banyak orang. Petani, buruh tani, tenaga pemanen, buruh kupas, pemarut, pembuat bumbu hingga para penjaja ondol.

“Semua memiliki peran masing-masing. Ini menggambarkan betapa pentingnya kebersamaan,” ujarnya.

 

Masing-masing punya peran dalam pembuatan ondol

 

Menurutnya, Bentang Ondol juga menjadi kritik sosial terhadap kondisi kekinian, yakni sikap individualistis atau hanya mementingkan kelompoknya sendiri. Sikap tersebut jelas menjadi ancaman nyata bagi budaya gotong royong di tengah masyarakat. Selain itu, tradisi ini juga sebagai upaya untuk mewujudkan kebanggaan bagi generasi muda terhadap tradisi masyarakat.

Proses pembuatan ondol diorkestrasi dengan apik dalam rangkaian yang diawali Mlampah Samparan. Ini adalah prosesi berjalan kaki menuju ke kebun singkong. 17 pria berambut gondrong ditemani 45 warga sebagai pengiring memilih dan mencabut singkong terbaik dari kebun warga dalam ritual Bedhul Singkong. Tidak asal cabut, mereka pun menyampaikan ‘tetembung’ atau permohonan dengan hormat

Singkong tersebut selanjutnya diolah menjadi ondol oleh 10 koki ondol terbaik di Wanayasa. Selanjutnya, ondol-ondol tersebut dimasukan  dan dibentangkan sejarak 1000 meter dalam Bentang Ondhol.

Nono menuturkan, pesta budaya ini juga dimeriahkan dengan acara seni budaya antara lain pawai ta’aruf, pacuan kuda lumping, aneka dolanan tradisional dan pentas musik Sedekah Nada yang disertai pelepasan lampion impian.

Wakil Bupati Banjarnegara Syamsudin menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Kuduran Budaya. Dia memuji semangat, kerja keras dan konsitensi warga sehingga Kuduran Budaya rutin terselenggara dan menjadi ikon Desa Wanayasa.

“Geliat, semangat dan kreativitas yang dimotori oleh anak muda ini patut dipertahankan,” ujarnya. (Istimewa / eKo / amar / ed DS)