DS – Dua belas Pengcab/Pengkot Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) Jawa Tengah mengikuti kejuaraan Provinsi (Kerjuprov) olah raga arung jeram R4 (empat pendayung) dan R2 (dua pendayung) di Sungai Serayu Singomerto, Banjarnegara. Kejuaraan yang diselenggarakan selama tiga hari dari tanggal 2 – 4 Oktober dilaksanakan dalam rangka pembinaan dan penjaringan atlet berprestasi untuk persiapan Kejurnas 2019 di Provinsi Jambi pada tanggal 1 – 4 November 2019. Demikian disampaikan Ketua Panitia Penyelenggara Anton Risdianto, Rabu (02/10) kepada Derap Serayu.

“Atlit yang lolos seleksi dan berhak mengikuti Kejurnas di Jambi adalah juara pertama di masing-masing nomor yang dilombakan” katanya.

 

salah satu peserta kejurprov Open R4 nomor sprint tengah memacu laju perahu mendekati garis finish 100 m di bawah jembatan Singomerto

 

Kejurprov olah raga arung jeram yang dibuka oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Banjarnegara mewakili Bupati ini diikuti oleh 130 atlet yang berasal dari Pengkab FAJI Banyumas, FAJI Purbalingga, FAJI Banjarnegara, FAJI Wonosobo, FAJI Temanggung, FAJI Magelang, FAJI Pekalongan, FAJI Batang, FAJI Purworejo, FAJI Pemalang, Pengkot FAJI Surakarta, dan Pengkot FAJI Semarang. Adapun yang dipertandingkan ada 4 Divisi untuk kategori putra/putri yaitu Open R4, Open R2, Junior R4, dan Youth R4.

“Masing-masing kategori mempertandingkan empat nomor yaitu Sprint, Head to Head, Slalom, dan Down River Race” katanya.

 

Secara simbolis pembukaan kejurprov, imbuh Anton, ditandai penyerahan dayung oleh Sekda Banjarnegara kepada perwakilan atlet putra dari FAJI Banjarnegara dan atlet putri dari FAJI Banyumas pada akhir upacara pembukaan di lapangan Pikas Singomerto.

 

Kontingen dan atlet bergambar bersama Sekda dan tamu undangan

 

Pada kesempatan tersebut, Sekretaris Daerah Kabupaten Banjarnegara Indarto menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya kejurprov di Banjarnegara. Ucapan selamat datang dan selamat bertanding disampaikannya pada semua peserta. Dia berharap penyelenggaraan kejurprov dapat berlangsung lancar dan aman. Paling utama adalah terselenggaranya pertandingan dalam kompetisi yang fair, mengutamakan obyektifitas dan kejujuran selama berlomba.

“Tidak dapat dihindari dalam sebuah pertandingan pasti melahirkan persaingan, hasrat untuk memenangkan perlombaan. Namun harus disadari semua dilakukan secara fair dan jujur. Lawan itu hanya dalam arena. Di luar lomba, mereka adalah kawan. Toh sejatinya lawan itu adalah mitra dalam meraih prestasi. Jadi perlombaan olah raga yang baik harusnya melahirkan kawan, bukan lawan” katanya.   (*_eko / ed DS)