DS – Bupati Banjarnegara Budhi Sarwono, Senin (14/10) mengunjungi Panti  Sosial Pamardi Raharjo di Pucang, Banjarnegara. Hal ini karena adanya laporan dari tiga desa perihal warganya yang  menderita gangguan kejiwaan eks pasien RSJ dan kini menjadi warga baru panti Pamardi Raharjo. Ketiga warga tersebut adalah Satim Raharjo, warga Desa Glempang- Kecamatan Mandiraja, Slamet Riyadi warga Binorong  Kecamatan Bawang dan Siti Nurjanah dari Desa Majalengka Kecamatan Bawang.

 

Setibanya di Panti Pamardi Raharjo, Bupati menyapa ketiga ODGJ tersebut dengan memberikan minuman susu kemasan. Ketiganya tampak  gembira dan langsung meminumnya. Ucapan terima kasih meluncur dari salah seorang diantaranya. Sementara satu rekannya lagi nampak tertawa dan yang perempuan menampakkan reaksi sebaliknya, termenung lesu.

Melihat itu semua membuat Budhi terharu. Kemudian Dia menuntun ketiganya untuk beristighfar dan berdoa.

“Ayo kita berdoa, mohon sama Allah semoga diberi kesembuhan,”katanya.

 

Berkait dengan ketiga pasien tersebut, Budhi mengucap terima kepada perangkat desa yang telah melaporkan ke Dinas Sosial sehingga ada penanganan yang lebih manusiawi. Ucapan terima kasih disampaikan juga pada pengelola panti yang telah menerima ketiganya dengan baik.

“Mereka juga saudara kita, ayo kita bimbing agar kembali sehat,” ajak bupati.

 

Kalau  ada penderita ganguan jiwa, semestinya jangan dikucilkan dari keluarga dan masyarakat. Sikap seperti itu hanya akan memperparah kondisinya.

“Saya punya ide malah kalau bisa dibentuk posyandu untuk kaum seperti itu, agar penanganannya bisa maksimal,” katanya.

 

Tanggung Jawab Pemerintah dan Masyarakat

Pelayanan kesejahteraan sosial merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat. Pemerintah disini, kata Budhi, artinya luas. Bisa Kabupaten, Provinsi maupun pusat. Oleh karena itu dia berharap seluruh dinas dan unit kerja harus nyekrup, harus sinergi, dan tidak boleh ego sectoral. Sehingga laporan warga berkait dengan masalah sosial orang dengan gangguan jiwa ini bisa lewat dinas mana saja, bisa lewat siapa saja.

“Semua harus ikut peduli, ayo bersama ciptakan Banjarnegara yang bermartabat dan sejahtera,” tegasnya.

 

Tanggung jawab dan kerja sama yang dimaksud bupati, diartikan bahwa pemerintah siap menyediakan sarana dan anggaran, sementara masyarakat berpartisipasi dengan rasa kepedulian dan juga perhatian kepada para penyandang masalah kesejahteraan sosial. Ini yang saya maksud kerja sama.

“Kepedulian dan perhatian yang dimaksud hendaknya jangan pandang bulu. Siapapun orangnya dan darimana dia berasal,” imbuhnya.

 

Kepala, Panti Sosial Pamardi Rahardjo,  Fatmawati SE, melalui Kasi Yahrensos, Yuliati Setyorini AKS mengatakan Panti Sosial Pamardi Rahardjo, sebagai penampung para penyandang masalah sosial atau PMKS, seperti : ODGJ, pengemis, gelandangan, orang terlantar, juga kenakalan remaja dan wanita tuna susila.

“Pada masa lalu semua PMKS bisa masuk, namun sekarang berubah menjadi panti pelayanan sosial sesuai pergub 31 tahun 2018 yang mulai berlaku Januari 2019.” katanya.

 

Panti Pamardi Raharjo memiliki 18 kamar dan 2 ruang isolasi. Saat ini panti menampung 50 penghuni. Untuk ruang isolasi bisa menampung 20 orang.

“Disini mereka dirawat, dibina, diobati, dan diberi ketrampilan” katanya. (*_Mujiprast / ed DS)

 

*