DS – Kebakaran hutan dan lahan di gunung Petarangan dilaporkan meluas. Titik api yg semula berada dibelakang punggung gunung Petarangan yang berada di perbatasan dengan wilayah Pekalongan Timur kini sudah merembet  masuk wilayah petak 21B jenis rimba alam dan  petak 21A tanaman Pinus th 2007. Cepatnya rembetan api dikarenakan kondisi cuaca kemarau dan angin kencang. Demikian dilaporkan Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPPD), Arif Rahman, Selasa (22/10).

“Kendala pemadaman kebarakan hutan dikarenakan titik kebakaran berada di jurang dan hutan lebat dan angin dikarenakan angin bertiup kencang serta kerap berpindah arah. Selain itu, minimnya peralatan juga menjadi kendala” katanya.

 

Kebakaran hutan Petarangan di wilayah Kecamatan Batur berdampingan dengan lahan pertanian warga

 

Upaya pemadaman sampai Selasa sore terus dilakukan dengan mengerahkan relawan dan warga yang datang secara bergantian melakukan pemadaman. Tim gabungan dibagi 3 regu menuju tiga jalur yaitu timur, tengah, dan barat. Setiap harinya upaya pemadaman dimulai sekitar pukul 07.30 wib dengan titik kumpul di lapangan desa Batur

“Masing-masing tim beranggotakan sekitar 1000 orang gabungan dari berbagai elemen serta warga” katanya.

 

Pertanian Ilegal dituding sebagai Penyebabnya

Diperkirakan luasan hutan dan lahan yang terbakar sudah mencapai 30 Hektare. Luasan ini akan bertambah luas manakala kebakaran tidak dapat dikendalikan. Kebakaran juga mengakibatkan kerugian di kalangan masyarakat Batur.

“Kebakaran mengakibatkan rusaknya sumber dan jaringan air bersih bagi warga Batur yang hangus termakan api. Kesulitan air mengancam warga pengguna” katanya.

 

Hutan Petarangan terbakar malam hari dilihat dari wilayah pemukiman penduduk

 

Kades Dieng Kulon, Slamet menambahkan akibat berulangnya kejadian kebakaran warga mencurigai semua ini akibat ulah sekelompok orang yang melakukan pertanian illegal di tanah-tanah perhutani. Mereka melakukan aktivitas pembukaan lahan dilakukan dengan cara membakar hutan.

“Celakanya itu terjadi di musim kemarau panjang bersamaan  dengan angin kencang yang datang tidak terduga” katanya.

Oleh karena itu untuk adanya kepastian hukum dan menyangkut kebenaran issue ini warga minta pihak berwajib untuk menyelidiki dan melakukan tindakan tegas, apa sebenarnya yang terjadi. Dan kedua agar kabar-kabar seperti ini diketahui kebenarannya sehingga tidak menjadi issue liar di tengah masyarakat. Ini yang mendasari warga menyampaikan aspirasi saat Rakor di Posko Bencana Senin malam di Rumah Dinas Camat Batur.

“Warga Batur meminta kepada pihak kepolisian dan Perhutani untuk menindak tegas pengguna lahan pertanian ilegal karena hal tersebut yang diduga menyebabkan kebakaran lahan” katanya. (*_eKo / ed DS)