DS – Ada “Candi Baru” di area penyelenggarakan Jerami Festival 2019. Wujudnya mirip-mirip bangunan candi yang ada di Dieng. Kabarnya “candi” ini dibangun dalam tempo yang cepat, meski tak secepat pembangunan Candi Ratu Boko dalam kisah Bandung Bondowoso. Bedanya “candi baru” ini terbuat dari tumpukan ribuan jerami. Bukan dari batu-batu keras yang dirangkai dengan teknik tinggi.

“Candi dan karya kreatif lainnya seperti patung dan dekorasi lokasi dibuat dari ribuan jerami sisa hasil panen di area persawahan sekitar lokasi” kata Ketua Panitia, Fauzi Saputra, usai acara pembukaan.

Penggunaan material jerami ini, sambungnya, sesuai dengan nama tema dari kegiatan ini yakni Festival Jerami. Selain itu, penggunaan jerami ini menjadi symbol bahwa mayoritas warga desa bermatapencaharian sebagai petani. Acara yang terlaksana untuk kedua kalinya ini merupakan wujud syukur sekaligus bentuk kreativitas warga dengan mengusung semangat gotong royong.

“Festival akan  berlangsung selama 10 hari dari tanggal 25 Oktober – 3 November 2019” katanya.

 

Beragam etalase seni patung dan bangunan dari jerami tersebut sangat artistic digunakan sebagai tempat selfi maupun welfie. Selain itu, selama sepuluh hari penyelenggaraannya, berbagai pentas seni tarian dan musik akan tampil mengisi panggung utama. Bagi pecinta kuliner disediakan puluhan stand kuliner lokal.

“Gelar potensi lokal dari usaha dusun hingga pengajian juga akan meramaikan agenda Festival” katanya.

 

Beragam karya kreatif seni patung dan penampilan seni tari mengisi keramaian festival jerami di dusun Binangun, desa Jenggawur, Kecamatan Banjarmangu

 

Festival Jerami dibuka untuk umum. Untuk hari-hari biasa harga tiket masuk lokasi panitia mematok harga Rp.5000/orang. Sedangkan untuk dua hari terakhir harga tiket Rp.10.000;-

“Dua hari terakhir berbeda harga tiketnya karena akan ada penampilan Komunitas Banjarnegara Reagae Family dan bintang tamu group musik blues dari Yogyakarta” terangnya

 

Wakil Bupati Banjarnegara, Syamsudin saat membuka Binangun Jerami Fest 2019 ini menyampaikan apresiasi atas semangat dan kreativitas warga Binangun untuk menyelenggarakan kegiatan tersebut. Menurutnya, ini merupakan salah satu cara untuk melestarikan kearifan lokal dan pengingat jati diri di tengah era kemajuan teknologi, terutama untuk generasi muda.

“Kegiataan ini memiliki makna luas. Bisa menjadi ajang pembelajaran bagi generasi muda untuk tidak melupakan kearifan lokal di tanah kelahirannya,” tuturnya

 

Pada kesempatan ini Wabup juga berpesan, agar seusai penyelengaraan acara jerami-jerami jangan dibakar karena akan lebih bermanfaat ketika dibuat menjadi pupuk organik. Sehingga saat kegiatan tersebut telah selesai maka akan berlanjut dengan kegiatan lain yang memiliki nilai dan manfaat bagi petani khususnya. (*amar / ed DS).