DS – Potensi kopi di Jawa tengah cukup bagus hingga bisa menembus pasar ekspor. Kopi yang masih berupa biji kopi mentah atau non roasted mencapai 78% dari total ekspor kopi Jawa Tengah, sedangkan untuk kopi roasted baru 2%. Demikian disampaikan Plh Sekda Provinsi Jawa Tengah, Heru Setiadhie saat membuka Festival Kopi dan Komoditas Perkebunan Tingkat Provinsi Jawa Tengah di Balai Budaya, Sabtu (26/10).

 

Kopi, lanjutnya, merupakan salah satu komoditas yang berkembang cukup pesat di Jawa Tengah. Ada 10 sentra penghasil kopi di Jawa tengah yang cukup dikenal antara lain Banjarnegara, Semarang, Temanggung, Kendal, Jepara, Pati, Wonosobo, Purbalingga, Magelang dan Brebes. Total luas lahan mencapai 28.917 hektare dengan volume produksi mencapai 17.456 ton.

“Kopi yang dihasilkan berupa dua jenis produk kopi unggulan yakni arabica dan robusta” katanya.

 

Di era milenial, kopi bukan hanya sekedar minuman atau sebuah komoditas saja. Saat ini kopi sudah menjadi budaya dan gaya hidup yang syarat dengan filosofi di dalamnya. Cita rasa pahit dari kopi menjadi pesan dan motivasi yang dapat menjadi pembelajaran bahwa hidup tidak selalu manis.

“Menjual kopi tidak hanya menjual produk tapi juga menawarkan filosofi,”ujarnya.

 

Hal tersebut juga melatarbelakangi munculnya kedai-kedai kopi yang tidak hanya menjajakan minuman kopi tetapi juga menawarkan suasana yang diminati oleh anak-anak muda. Fenomena tersebut merupakan inovasi untuk meningkatkan nilai jual kopi.

“Pada akhirnya, meningkatnya citra kopi berdampak pada peningkatan kesejahteraan para pelaku usaha dan petani kopi” katanya.

 

Wakil Bupati Banjarnegara, Syamsudin menyampaikan ucapan terima kasih kepada Pemprov Jateng yang telah menunjuk Banjarnegara menjadi tuan rumah Festival Kopi dan Komoditas Perkebunan Tingkat Provinsi Jawa Tengah. Hal ini yang menjadi alasan, mengapa selama dua hari ini dari tanggal 26-27 November, para penggiat industri kopi dari berbagai kabupaten di Jawa Tengah hadir di event ini.

 

Lebih lanjut disampaikan, tuntutan masyarakat akan kopi yang berkualitas menjadi tantangan sekaligus peluang. Dukungan dari pemerintah maupun non pemerintah dan kemauan yang tinggi para petani serta pelaku usaha kopi menjadi modal yang kuat dalam upaya peningkatan produksi dan kualitas produksi.

“Selain itu tentunya adalah dukungan pasca panen dan pemasaran” ujarnya

 

Beruntungnya, kopi merupakan satu komoditas yang masuk dalam rencana strategis Pemkab Banjarnegara karena memiliki nilai ekonomi dan konservasi yang tinggi. Berbagai prestasi juga pernah diraih kopi Banjarnegara, baik di kontes kopi tingkat regional maupun nasional. Komoditas yang cocok dengan kondisi geografis Banjarnegara ini digadang-gadang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Banjarnegara.

“Besar harapannya, kopi menjadi bagian dalam mewujudkan Banjarnegara yang bermartabat dan sejahtera” katanya. (*amar / ed DS)