DS – Noor Tamami yang juga Kepala Dinas Pendidikan dan Olah Raga Kabupaten Banjarnegara terpilih sebagai ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Banjarnegara yang baru. Dia menggantikan ketua PGRI sebelumnya, Sukirman yang habis masa jabatannya. Pada musyawarah PGRI untuk memilih ketua masa jabatan 2019 – 2024 di komplek makam Dr. Sulistyo, Desa Kalitengah, Purwanegara, Selasa (29/10), Noor meraih 509 suara, unggul jauh atas rivalnya Suwandi, S. Pd., dengan 331 suara.

 

Musyawarah PGRI dibuka Bupati Banjarnegara Budhi Sarwono. Kegiatan ini dihadiri Wakil Bupati Syamsudin, Pengurus PGRI pusat, provinsi, dan Kabupaten Banjarnegara, utusan PGRI dari seluruh kecamatan di Banjarnegara, utusan cabang khusus, pengurus ranting, dewan pakar, dewan kehormatan, asosiasi keahlian sejenis, YPLP, IGTKI PGRI, dan satgas PGRI.

Agendanya antara lain pengesahan LPJ kepengurusan sebelumnya, penetapan program kerja pengurus baru, pernyataan penetapan konferensi, serta pemilihan pengurus periode 2019-2024. Pada kesempatan tersebut juga dilakukan peletakan batu pertama Pondok Baca “Budhi Sarwono” di kompleks makam Dr. Sulistyo.

 

Guru Sejahtera

Bupati Budhi Sarwono dalam sambutannya menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh guru utamanya pengurus PGRI atas pengabdian dan dedikasinya dalam berkiprah mewujudkan peningkatan mutu pendidikan.

“Pada prinsipnya kami mendukung perjuangan guru dan PGRI. Semoga PGRI Banjarnegara menjadi organisasi profesional dalam mendukung visi mewujudkan masyarakat yang bermartabat dan sejahtera,” katanya.

Sementara itu ketua PGRI Jateng, Muhdi dalam sambutannya menegaskan bahwa diperlukan kapabilitas guru untuk mendukung generasi muda dalam meraih masa depannya. Hal ini penting karena bangsa Indonesia akan menghadapi bonus demografi. Oleh karena itu anak-anak yang sekarang duduk di bangku SD, SMP, SMA, harus dipersiapkan sebaik mungkin.

“Untuk itu dibutuhkan guru yang punya kapabilitas dan guru juga harus disejahterakan agar tugasnya lebih profesional,” katanya.

 

Dia menambahkan, dirinya tak bisa lepas dari sosok Sulistiyo sebagai pribadi pejuang. Almarhum yang putra asli Banjarnegara adalah pribadi pejuang yang totalitas memperjuangkan nasib guru dan kemajuan dunia pendidikan.

“Dr. Sulistyo dan PGRI terus berjuang untuk guru, terutama dalam mensejahterakan guru sehingga bermartabat dan profesional,” katanya. (*mjp / ed DS).