DS – Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem (DTPB) Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) dan riset grup Konservasi DAS Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta mengenalkan teknologi Biogdigester pada warga dusun V desa Leksana, Karangkobar. Teknologi sederhana ini memanfaatkan kotoran sapi sebagai sumber energy dengan mengolahnya sebagai biogas. Selain ramah lingkungan, teknologi biodigester ini akan mengurangi pemanfaatan kayu sebagai bahan bakar rumah tangga. Demikian disampaikan Dr. Ngadisih, koordinator Tim Biodigester, Rabu (30/10).

”Warga Desa Leksana, Karangkobar, pada umumnya memanfaatkan kayu dan LPG 3 Kg sebagai bahan bakar rumah tangga. Sementara sebagian warga memiliki ternak sapi namun kotorannya belum dimanfaatkan secara optimal sebagai sumber energy terbarukan” katanya.

Di sisi lain, pemanfaatan kayu bakar yang tinggi akan mengancam kelestarian pepohonan yang mendukung  kekuatan lahan. Padahal wilayah Karangkobar diketahui sebagai wilayah dengan kerawanan longsor tinggi. Sejarah menunjukan tanggal 12 Desember tahun 2014 pernah terjadi longsor besar di dusun Jemblung, desa Sampang yang lokasinya berdekatan dengan desa Leksana dengan korban 108 jiwa meninggal terkubur longsoran.

“Penggunaan teknologi biodigester diharapkan akan menyokong upaya pelestarian hutan sebagai penyangga cadangan air sekaligus sebagai penguat kondisi tanah” katanya.

 

Kegiatan yang dilakukan oleh DTPB FTP dan Konservasi DAS UGM ini, lanjutnya, merupakan rangkaian kegiatan Hibah Pengabdian kepada Masyarakat Education for Sustainable Development (EfSD) oleh PSBA UGM. Departemen TPB adalah mitra bagi Pusat Studi Bencana (PSBA) UGM. Tim EfSD terdiri dari dosen TPB FTP UGM (Dr. Ngadisih) dan dosen Fakultas Kehutanan (Dr. Hatma Suryatmojo dan M. Chrisna Satriagasa, M.Sc) serta didampingi oleh Dr. Joko Nugroho WK.

“Kerjasama dengan PSBA ini juga merekomendasi pemilihan jenis tabung biogas fiber. Hal ini didasarkan pada karakter wilayah yang bertopografi. Sebab digester tipe bangunan tetap semen sangat potensi rusak akibat pergerakan tanah yang cenderung mudah longsor” katanya.

 

Penggunaan penampung biogas dari bahan fiber untuk mengantisipasi rusak karena pergerakan tanah

 

Anggota Tim, Dr. Hatma Suryatmojo menambahkan biodigester merupakan teknologi yang dapat menghasilkan sumber bahan bakar alternatif yang dapat diperbaharui. Hal ini karena bahan bakunya yang berasal dari kotoran ternak. Teknologi biodigester dapat menjadi bahan bakar alternatif yang menggantikan kayu bakar dan LPG 3 Kg untuk menunjang kehidupan masyarakat sehari-hari. Secara ringkas, teknologi biodigester menghasilkan gas methan yang digunakan penduduk sebagai energi  untuk memasak di skala rumah tangga.

“Digester dengan spesifikasi volume 4 m3 berbahan fiber didukung ternak 3 ekor sapi dapat digunakan untuk mendukung kebutuhan 1 keluarga” katanya.

 

Pengenalan teknologi biodigester ini, kata Hatma, diharapkan mampu mengedukasi masyarakat bahwa kotoran ternak ternyata dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus manfaat lingkungan.  Diantara manfaat tersebut adalah mengurangi pencemaran lingkungan lingkungan akibat kotoran ternak yang menumpuk; dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif untuk memasak; hasil samping dapat diolah menjadi pupuk organik;  dapat menekan atau mengurangi harga produksi dalam kegiatan bertani; teknologi biodigester menjadi salah satu bentuk upaya konservatif untuk mengalihkan dan mengurangi ketergantungan warga masyarakat dalam kegiatan pertanian intensif.

“Harapannya dengan adanya upaya-upaya konservatif tersebut, warga dusun V desa Leksana dan sekitarnya dapat menjadi petani yang sukses dengan kemerataan sumber pendapatan, serta mampu mewujudkan kemandirian desa tangguh bencana” katanya.

 

Sementara itu, Sekdes Leksana Indra menyambut baik upaya pengenalan teknologi biodigester pada warga dusun V. Paling tidak, kotoran sapi yang selama ini hanya dipahami sebagai pupuk alam, ternyata ada manfaat lain sebagai bahan bakar biogas. Bisa dibuat masak dan keperluan lainnya.

“Ibu-ibu pada senang apabila teknologi ini bisa terpasang di semua rumah tangga. Ini karena biodigester membantu menghemat anggaran rumah tangga” katanya.

Dari pihak desa sendiri, lanjutnya, juga berterima kasih karena warga diberikan bantuan dan ilmu pengetahuan tentang pemanfaatan energy alternative. Selain itu, wilayah yang dikenalkan biodigester memang dikenal rawan longsor. Harapannya penggunaan teknologi biodigester ini mampu mengurangi, bahkan kalau bisa menghilangkan penggunaan kayu bakar.

“Kalau hutan dan pepohonan subur akan menguatkan posisi tanah” katanya. (*_eKo / ed DS)