DS – Masyarakat Banjarnegara merupakan masyarakat majemuk yang terdiri dari pemeluk agama yang berbeda-beda serta terdiri dari berbagai etnis dan budaya. Keragaman ini harus dikelola dengan baik agar dapat menjadi modal social yang penting dalam mewujudkan cita-cita pembangunan. Demikian disampaikan Assisten Pemerintahan dan Kesra Setda, Nurul Aini, Kamis (31/10) pada Pengajian Panitia Pengajian Umum (PPU) di eks Karesidenan Karangkobar di MTs Muhammadiyah Kalibening.

“Keragaman harus dikelola dengan baik agar tercipta kerukunan, perdamaian, dan persaudaraan” katanya.

 

Oleh karena itu dibutuhkan adanya silaturahmi, dialog dan kerjasama intern serta antar umat beragama. Dialog dan silaturahmi ini penting dilakukan, katanya, agar apabila ada permasalahan bisa cepat dicarikan solusinya.

“Persaudaraan, kerukunan, persatuan dan kesatuan itu harganya tidak bisa diukur dengan materi sebab menjadi pondasi utama untuk mensejahterakan masyarakat” imbuhnya.

 

Camat Kalibening, Joko Prayitno mengatakan modal persatuan dan kesatuan antar berbagai ormas Islam terbukti menjadi modal besar untuk mengatasi permasalahan kekeringan di wilayahnya. Elemen muda tiga ormas besar yakni Muhammadiyah, Syarikat Islam, dan Nahdatul Ulama bersatu dan bekerja sama melakukan aktivitas sosial dropping air bersih untuk 900 KK warga di Kalibening dan desa Sikumpul. Pekerjaan ini dilakukan dengan peralatan yang ada hingga malam hari.

“Hal itu menjadi alasan mengapa sampai saat ini kami belum mengajukan bantuan dropping air bersih dari BPBD, sebab kerjasama dan kemandirian warga masih mampu mengatasi masalah kekeringan ini” katanya.

 

KH. Zahid Khasani, Ketua PPU yang berasal dari unsur Nahdatul Ulama tengah memberikan sambutan pada pengajian akbar PPU di eks distrik kawedanan Karangkobar, Kamis (31/10)

 

Ketua PPU, Zahid Khasani, menambahkan PPU memiliki program pengajian akbar yang diselenggarakan di empat wilayah eks distrik kawedanan yaitu distrik Klampok, Wanadadi, Karangkobar, dan Batur. Pengajian akbar di distrik Kalibening dilaksanakan kedua kalinya setelah distrik Wanadadi dengan pembicara KH. Achmed Shoim el Amin, Lc, M. Si., pengasuh Ponpes Al Ihya Ulumudin Kesugihan Cilacap.

 

PPU, sambung Zahid, beranggotakan tiga ormas besar di Banjarnegara dimana jabatan ketuanya dilakukan secara bergiliran dari masing-masing ormas setiap tahunnya. Penyelenggaraan pengajian di distrik dilaksanakan oleh ketiga ormas dengan pemerintah kecamatan.

“Ini sebagai wujud nyata persatuan dan kesatuan antar ormas serta bagian dari sarana dialog juga. Masyarakat juga bisa melihat bila pimpinan ketiga ormas bersatu dan memelihara keragamaan dengan baik” katanya.

 

KH. Achmed Shoim El Amin, Lc. , M. Si, pengasuh Ponpes tengah memberi tausyiah pada Pengajian Akbar PPU di Kalibening

 

Dirinya berterima kasih bahwa program mengelola keragaman umat tersebut mendapat dukungan anggaran dari Pemerintah Kabupaten. Namun mengingat manfaatnya, pihaknya mengusulkan kegiatan ini untuk ditingkatkan jumlahnya.

“Mengingat manfaatnya, PPU akan mengusulkan kepada Pemkab agar jumlahnya ditingkatkan sehingga nanti tiap distrik akan melaksanakan dua kali dalam satu tahunnya” katanya. (*_eKo / ed DS)