DS – Banjarnegara kekurangan dokter spesialis kandungan. Saat ini hanya ada dua orang dokter spesialis yang full timer. Kekurangan tenaga spesialis ini ditengarai memiliki pengaruh besar terhadap tingginya Angka Kematian Ibu. Hal ini disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) dr. Ahmad Setiawan, Selasa (05/11), pada Pertemuan Desiminasi Hasil Kajian Audit Maternal Perinatal (AMP) di Kencana Room Hotel Surya Yudha,

“Keterbatasan tenaga ahli dan tenaga spesialis di rumah sakit sangat berpengaruh. Meskipun Puskesmas sudah dikuatkan fungsinya” katanya.

 

Masalah muncul jika pasien harus dirujuk ke rumah sakit, tetapi karena keterbatasan pelayanan dokter spesialis maka rumah sakit penuh sehingga pasien harus dilarikan ke luar daerah atau ke rumah sakit yang lebih lengkap. Ini tentu memakan waktu.

“Faktor keterlambatan ini diduga menjadi salah satu factor tingginya AKI yang sampai bulan Oktober 2019 jumlahnya sudah mencapai 22 orang” katanya.

 

Untuk kesediaan dokter spesialis kandungan ini, Banjarnegara termasuk kurang.

“Kabupaten Wonosobo sudah punya 5 spesialis, Banyumas 21, dan kabupaten tetangga lain sudah puluhan jumlahnya” imbuhnya.

 

Menanggapi hal tersebut Bupati Budhi Sarwono berjanji mencarikan solusi agar kekurangan dokter spesialis kandungan tercukupi.

 

“Renstra saya jelas. Kesehatan itu utama, kemudian pendidikan, baru infrastruktur. Anggaran kesehatan tidak akan saya kurangi, malah kalau perlu saya tambahi” katanya.

 

Menanggapi tuntutan kurangnya dokter spesialis kandungan, dirinya mengaku akan berkonsultasi dengan ahlinya.

 

“Tentunya kita bicarakan dengan baik, dan pastinya saya mendengarkan aspirasi dari Bapak dan Ibu semua,” pungkasnya. (*_Mujipras / ed DS)