DS – Dropping air bersih ke wilayah terdampak kekeringan hingga Senin (11/11) masih terus berlanjut, meski hujan mulai turun dan status Darurat Bencana Kekeringan tahap 2 berakhir pada tanggal 07 November 2019 lalu. Ini karena sejumlah desa di wilayah selatan, tengah, dan barat Banjarnegara masih mengajukan permintaan untuk mendapatkan dropping air bersih.

“Dropping air masih terus dilanjutkan sampai dengan tidak ada permintaan air bersih dari desa-desa. Hal ini karena air bersih merupakan kebutuhan pokok masyarakat yang tidak dapat dihindari harus dipenuhi untuk keberlangsungan hidup” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPPD), Arif Rachman, Selasa (12/11) di kantornya.

 

Pemkab tidak akan mengeluarkan status darurat kekeringan lanjutan, namun kegiatan dropping air akan terus dilanjutkan hingga akhir bulan ini.

“Harapannya sampai akhir bulan kondisi hujan sudah merata ke semua wilayah dan sumber-sumber air sudah mulai mengeluarkan airnya” katanya.

 

Dampak kekeringan tahun ini, kata Arif, semoga dapat menjadi pembelajaran bagi masyarakat agar dalam musim hujan nanti mulai melakukan upaya konservasi. Caranya dengan melakukan penanaman pohon untuk memunculkan sumber mata air pada masa yang akan datang dan untuk menambah debit air pada sumber mata air yang sdh ada.

“Prinsipnya, tinggalkan pada anak cucu kita mata air bukan air mata” katanya.

 

Kegiatan dropping air bersih selain dilaksanakan oleh BPBD juga dibantu armada dari PMI, DPU, dan PDAM. Operasional dropping air juga dibantu pihak sponsor dan donatur dari BUMD, Perusahaan, Lazismu, Anggota Dewan, Pihak swasta, dan pribadi. Aktivitas dropping BPPD ini dibantu juga oleh PMI dan unsur relawan bencana lainnya. Kegiatan dropping air dilangsungkan dari pagi hingga malam hari untuk mencukupi permintaan masyarakat.

“BPPD mengucapkan terima kasih atas kepedulian, kerjasama, dan dukungan berbagai pihak dalam menangani bencana kekeringan. Ini menegaskan bahwa bencana menjadi tanggung jawab bersama yakni Pemerintah, Swasta, dan Masyarakat” katanya.

 

Relawan bencana ikut membantu melaksanakan kegiatan dropping air bersih ke berbagai pelosok desa di Kabupaten Banjarnegara hingga malam hari

 

Tahun 2019 Jumlah Liter air Dua Kali Jumlah Tahun 2018

Kasi Kedaruratan dan Logistik, Agus Haryono menambahkan Status Darurat Bencana Kekeringan pertama kali dinyatakan Bupati pada tanggal 03 Juli s.d. 28 September 2019. Status ini berlanjut untuk masa kedua dari tanggal 29 September s.d 07 November 2019. Di dalam rentang dua masa darurat kekeringan tersebut total wilayah terdampak kekeringan ada 11 kecamatan, 41 desa, 6.439 KK atau 27.788 Jiwa.

“Jumlah total Ritase Pengiriman sejak Penanganan Darurat Bencana Kekeringan tanggal 03 Juli 2019 sampai tanggal 11 November 2019 adalah sebanyak 1.486 Tangki atau 7.430.000 liter” katanya.

 

Warga tengah menunggu pengisian air bersih dari petugas dropping air BPBD Banjarnegara

 

Pada Senin 11 November 2019, kata Agus, dropping air bersih dilaksanakan untuk 7 desa di 5 kecamatan. Ke tujuh desa tersebut adalah Desa Jalatunda Kecamatan Mandiraja, Desa Sirkandi Kecamatan Purwareja Klampok, Desa Karangjati Kecamatan Susukan, Desa Gentansari Kecamatan Pagedongan, serta Desa Wiramastra, Desa Wanadri, dan Desa Kebondalem di Kec Bawang.

“Jumlah pengiriman pada hari Senin sebanyak 18 tangki atau 90.000 liter” imbuhnya.

 

Bila dibandingkan dengan tahun 2018 lalu, maka jumlah desa, kecamatan, cakupan, dan jumlah ritase juga jauh lebih luas dan lebih banyak. Tahun 2018 cakupan wilayah terdampak meliputi 31 desa dan 10 kecamatan. Tahun 2019 mencakup 41 desa di 11 kecamatan. Jumlah penduduk terdampak di tahun 2018 sebanyak 4.326 KK atau 20.472 jiwa. Sedangkan untuk tahun 2019 berjumlah 6.439 KK atau 27.788 jiwa.

“Jumlah ritase juga meningkat. Di tahun 2018 jumlah tangki 596 atau 2.980.000 liter. Dan di tahun 2019 sampai hari Senin ini jumlah tangki 1.469 atau 7.345.000 liter. Jumlah ini kira-kira 2,5 kalinya dropping air di tahun 2018” pungkasnya. (*_eKo / ed DS).