DS – Desa Gripit Kecamatan Banjarmangu mengembangkan wisata religi ziarah makam Sunan Giri Pit. Tujuan dari pengembangan ini adalah untuk meningkatkan pendapatan asli desa (PAD) dari potensi lokal yang ada. Untuk mewujudkan niatan ini, Pemerintah Desa membangun komplek makam dengan membangun betonisasi jalan menuju makam, membangun tempat parkir yang mampu menampung 8 bus, merapikan tangga naik menuju makam, membangun pendapa peristirahatan, tempat parkir, dan lokasi untuk menjajakan hasil Unit usaha masyarakat. Demikian disampaikan Kades Gripit, Sugeng, Kamis (19/12) di kantor desa.

“Desa-desa sekarang ini dituntut untuk dapat mengembangkan potensi desa. Pilihan pada pengembangan wisata religi ziarah makam Sunan Giri Pit karena diantara potensi desa yang ada, potensi wisata religi memilliki peluang pemasukan PAD yang paling besar” katanya.

Hal ini bukan tanpa alasan, sebab wisata religi ziarah makam Sunan Gripit ini sudah cukup kondang di sejumlah wilayah. Saat tempat ini belum dibangun, kata Sugeng, warga dari Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Kebumen, Cilacap, Batang, Yogyakarta, Cirebon, Tasikmalaya, Jakarta, bahkan dari luar Jawa seperti Sumatra dan Kalimantan tercatat pernah melakukan wisata ziarah ke makam Sunan Gripit. Akses menuju makam juga mudah.

“Dari jalan utama Banjarnegara – Karangkobar di pertigaan pasar Gripit belok menuju arah Kalibening. Jalannya juga sudah mulus dan beraspal. Masuk kira-kira 5 km, tepat di kiri jalan nanti ketemu pintu masuk makam ada tulisan di atasnya. Masuk 50 m sudah sampai lokasi” katanya.

 

Peluang ini yang mencoba ditangkap oleh desa. Kita fasilitasi dengan memperbaiki akses, tempat parkir, dan lingkungan pendukung. Kita dorong warga untuk membuka warung-warung kuliner, kios-kios barang kenang-kenangan, dan aneka jasa lainya, termasuk jasa homestay.

“Harapannya wisatawan religi ini datang, membelanjakan uang, dan kalau memungkinkan menginap di rumah-rumah penduduk” katanya.

 

Untuk mendukung upaya ini, lanjutnya, kami juga mencoba menjalin kerjasama dengan desa tetangga yang memiliki obyek wisata juga. Bila memungkinkan pemasaranya dirancang dalam satu paket kunjungan wisata. Sehingga wisatawan tidak hanya berkunjung kepada satu obyek saja namun memiliki banyak tujuan. Obyek wisata religi Sunan Giri Pit pengelolaannya nantinya akan berada di bawah Badan Usaha MIlik Desa (Bumdes).

“Rencana pengembangan ke depan obyek wisata religi ziarah makam Sunan Giri Pit ini juga akan ditambahkan sejumlah obyek wisata selfie, tempat bermain anak, dan kolam renang. Ini agar tidak hanya satu obyek” katanya.

 

Semua pengembangan ini, lanjutnya, dialokasikan dari dana desa. Kami berharap ada dukungan dari pemerintah dalam pemasarannya. Termasuk juga dibantu dibuatkan papan penunjuk arah yang dimulai dari kota Banjarnegara.

“Pemerintah melalui Dinas Pariwisata memiliki akses yang luas ke pasar wisatawan. Saat melakukan publikasi obyek wisata, kami minta obyek ini dimasukan sebagai salah satu destinasi wisata religi di Banjarnegara” pungkasnya.

 

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaah, Dwi Suryanto menyambut baik upaya pengembangan potensi wisata desa. Hal ini seiring dengan otonomi desa yang lebih besar dalam pengelolaan dana desa. Sekarang ini banyak desa tengah giat-giatnya melakukan pengembangan potensi wisata. Hanya saja, kata Dwi, pihaknya berharap pengembangannya tidak latah sehingga dimana-mana obyeknya sama sehingga menjadi sedikit variasinya.

“Prinsipnya, Dinas menyambut baik semua upaya ini. Karena membuat Banjarnegara menjadi banyak tujuan wisata” katanya. (*_eKo/edDS)