DS — Pokdarwis Kampung D’pitu bersama Pemerintah Desa Kemiri, selama dua hari (Sabtu – Minggu, 25-26/01) menyelenggarakan Pesta Durian Kampung D’pitu di lokasi wisata Curug Pitu, Desa Kemiri, Kecamatan Sigaluh. Kegiatan tahunan yang dilaksanakan untuk kedua kalinnya ini merupakan ajang promosi produk durian lokal desa Kemiri dan juga untuk meningkatkan perekonomian petani durian desa Kemiri.

“Dulu sebelum ada upaya promosi ini, khalayak belum kenal dengan durian produk desa Kemiri. Setelah kegiatan pertama kali di tahun sebelumnya, durian desa Kemiri mulai dikenal para penggemar durian. Dan ini berdampak pada peningkatan harga durian lokal dari semula harga berada di kisaran Rp 20 ribuan, sekarang harga berkisar antara Rp 60 – 100 ribu per biji” kata Ketua Panitia Pesta Durian 2020 Kampung D’pitu, Eko, Minggu (26/01).

 

Hanya saja untuk penyelenggarakan Pesta Durian kedua ini, bertepatan dengan musim durian yang tidak terlalu bagus. Banyak pohon yang tahun sebelumnya berbuah dengan hasil panen yang banyak serta rasa unggulan sekarang untuk rasa berubah.

“Ini karena pengaruh musim hujan ekstrem. Ada sejumlah pohon durian varietas lokal unggulan yang gagal panen seperti Si Tumbu dengan berat buah antara 5 – 6 kg dan dasar rata tidak berbuah di tahun ini. Sementara yang panen rasa buahnya kurang bagus. Hanya ada beberapa pohon yang dapat menghasilkan buah dengan rasa ajeg” kata Eko, menambahkan.

 

Untuk kegiatan Pesta Durian ini, sambung Eko, setiap pengunjung yang masuk arena pesta dikenakan tarif Rp 10 ribu. Dan bagi mereka yang ingin ikut event makan duren sepuasnya harus membayar tiket Rp 130 ribu per orang.

“Sepuasnya ini pun ada durasinya. Hanya untuk waktu 1 jam” katanya.

 

Kepala Desa Kemiri, Kamal Darojat, mengingatkan pada semua panitia bahwa kegiatan pesta durian ini merupakan kegiatan promosi. Sebuah upaya untuk meningkatkan nilai produk durian lokal desa Kemiri. Karena upayanya lebih pada penekanan promosi, maka jangan berpikir untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya. Justru paling penting adalah mengutamakan pelayanan pada para pengunjung dan para pembeli sebaik mungkin.

“Jangan berpikir keuntungan besar dahulu. Semua upaya seperti ini butuh waktu, kesabaran dan strategi. Penting untuk jadi perhatian, jangan sampai pembeli kecewa karena mendapatkan kenyataan yang jauh berbeda. Karena itu terangkan keadaan sebenarnya dengan cara baik” kata Kemal.

 

Dirinya pun menyampaikan permohonan maaf pada para pengunjung apabila ditemukan durian yang tidak sesuai harapan, utamanya soal rasa. Ini karena panen tahun ini tidak sebaik tahun sebelumnya. Selain itu, namanya buah, juga kadang salah menerka. Meski sudah dibekali dengan ilmunya, tapi karena berhadapan dengan alam, kadang-kadang tidak sesuai harapan.

“Mohon maaf apabila menemukan hal demikian” katanya.

 

Harapannya seuai yang dikehendaki, kata Kemal, kegiatan pesta durian ini mampu meningkatkan nilai durian Kemiri yang ujung-ujungnya meningkatkan pendapatan petani durian.

 

Harnoto (62 th), pria sepuh dari Kudus bersama Keluarga sengaja datang pada event Pesta Durian D’pitu untuk menikmati durian lokal. Menurutnya, rasa durian lokal desa Kemiri josss dan mantap. (Dinkominfo/eKo/Jan2020)

 

Salah seorang pengunjung dari Batang, Yusran, mengaku sengaja mendatangi event Pesta Durian ini, selain karena Dia penasaran dengan rasa durian lokal Desa Kemiri, juga sekalian survey.

“Kebetulan saya anggota komunitas Panther, jadi sekalin survey mencari tempat untuk touring” katanya.

 

Secara umum, lanjutnya, penyelenggaraan pesta durian ini cukup baik. Rasa duriannya pun mantap.

“Saya suka soal rasa duriannya. Namun, saya kesulitan soal parkir” katanya.

 

Bahkan Harnoto (62 th) dan keluarga dari Kudus pagi hari sudah sampai di lokasi. Dia mengaku bersama lima anggota keluarga, Dia dan istri, anak lekakinya dan menantu, serta cucu perempuanya khusus mendatangani event ini. Berangkat dari rumah pukul 03.00 pagi hari. Sengaja kami sekeluarga ke sini memang ingin tahu bagaimana rasa durian lokal Kemiri. Di Kudus pun ada, karena itu kami ingin tahu perbandingannya.

“Rupanya varian lokal di sini banyak sekali. Dan nama itu sesuai nama blok tanam. Pada kesempatan awal ini Kami memilih durian jenis Blimbing. Kami mengakui, rasanya Josss. Mantap tenan” kata Harnoto. (*_eKo/edDS)