Sore yang gerimis. Jalan berliku hutan damar nan gelap kearah Desa Pesangkalan lumayan sepi. Kendaraan tua kami merayapi aspal mulus menuju Pesangkalan via jalur : Wanasari-Wirasari-Kepetek.
Kami sengaja tidak melewati jalur lama via Pagedongan. Rute ini – aselinya jalur terpendek Sikut Pitu yang legend bagi pejalan kaki– memangkas jarak dari kota ke Desa Pesangkalan hanya 20 menit.
Kendaraan kami berhenti di Dukuh Sangkalan, dihalaman Masjid nan megah Baiturrahman. Persis di halaman rumah Pak Salim, Pak Panut dan Pak Karyoto, yang oleh Pokdarwis disulap jadi homestay.

Usai menaruh tas punggung dikamar, kami duduk-duduk. Kami–Aron Gandaru, Rofiq Setiyadi, Mohamad Fajri dan Arin Listyserta lainnya– memilih selonjoran diatas tikar daripada kursi tamu.

Rasanya pas dan santuy selonjoran sinambi ngopi serta makan mendoan dan ngemil ubi atau keripik talas hasil kebun lokal.
Malam di perbukitan Pesangkalan terasa hening. Juga, cukup dingin. Namun, saat mulai mendengar cerita gayeng masa lalu desa dari kalangan sepuh dan visi kedepan yang berkobar-kobar dari kaum milenialnya, hawa malam rasanya lebih hangat dan cair.
Desa Pesangkalan konon pernah menjadi wilayah Kabupaten Kebumen, sebelum1927. Namun sejak Pemerintahan Bupati Soemitro Kolopaking (1927) dan era Kepala Desa Braja Wijaya (1927-1942), Pesangkalan menjadi bagian dari kecamatan kota, wilayah kabupaten Banjarnegara.
Kemudian, pada 2004, desa seluas 678 hektar itu menjadi wilayah pemekaran Kecamatan Pagedongan. Dengan seperempat penduduknya yang berjumlah sekitar 3.500 jiwa bermata pencaharian petani. Produksi pertanian desa diperbukitan dengan tinggi 450 mdpl yang menonjol, saat ini, antara lain : kopi robusta, rempah lada, buah pala, dan kapulaga serta ketela kayu. Ketela merupakan bahan baku utama tepung mocaf.

* cerita & foto :  Sagiyo Arsadiwirya