Pesangkalan, awalnya adalah sebuah pemukiman kecil. Dalam versi buku riwayat sejarah desa disebut bahwa pendirinya bernama Wirya Wiguna. Ia dibantu kerabatnya, Mangli.

Mula-mula nama pedukuhan disana adalah Sangka Lian (kini, Sangkalan), Simo Agung (Semagung), Gringging, Gerdu, kemudian Banjaran. Hampir semua pedukuhanya berkonstur perbukitan. Karakter wilayah yang serupa dengan ratusan desa-desa lain yang hidup diatas punggung pegunungan Serayu Selatan –yang membentang sekitar 100 km dari wilayah Purworejo hingga Cilacap.

Di atas ketinggian perbukitan 450 meter dpl inilah tanaman kopi robusta Pesangkalan hidup subur. Di hamparan perkebunan seluas 26 hektar yang dikelola secara organik.
Bila Anda berkunjung ke Curug Pletuk –salah satu destinasi wisata unggulan disana– saat bunga kopi mekar bulan Oktober, harum bunganya tercium kuat. Bunga-bunga inilah yang kemudian menjadi biji kopi robusta organik unggul dari bukit Serayu selatan di Pesangkalan.

Salah satu pegiat dan pelaku usaha kopi robusta di Pesangkalan adalah Indra Cahya. IG-nya @Indroz_indra (Robusta Pesangkalan).

Saat Tour d’ Pesangkalan kemarin, kami mampir di rumah produksinya. Tentu saja: mencicipi uji rasa dari seduhan 10 gram kopi per cangkir dengan air 150 ml. Robusta: natural, honey, wash maupun natural unaerob.

Caranya, air panas 95°c dituangkan ke cangkir yang sudah berisi bubuk kopi. Diamkan 4 menit. Tidak perlu diaduk. Lalu dorong pelan dengan sendok dan cicipi citarasanya. Wuih, mak sedut! — ujar tester kopi Aron Gandaru .

(bersambung)

 

* cerita & foto :  Sagiyo Arsadiwirya