Tour d’ Pesangkalan menginap semalam. Hening perbukitan membuat istirahat lelap.

Setelah sarapan pagi sayur waluh dan ikan asin ala ndeso, selain melihat produksi kopi robusta, kami diajak guide anak-anak milenial menjelajah produk unggulan lain di Desa Pesangkalan.

Yakni, (salah satunya) rumah produksi Karunia Mocaf di Dusun Banjaran. Pemiliknya perempuan, masih muda, juragan glepung Arin Listy .

Memulai usaha sekitar tahun 2016. Dibantu sang adik Gunawan. Kini mampu memproduksi 3 ton mocaf per bulan. Pekerjanya sekitar 15 orang dan rata-rata perempuan ibu rumah tangga.

Pekerja perempuan bekerja ditahapan kupas kulit dan cuci ketela. Selanjutnya, cacah, rendam, jemur hingga giling menjadi tepung dilakukan oleh pekerja pria.

Perempuan pekerja yang lincah mampu mengupas 2 kuintal ketela per hari. Ongkos kupas Rp 250 per kilo. Perempuan yang bekerja dan memperoleh pendapatan, tentu turut serta mengungkit taraf kesejahteraan keluarga.

Bisnis perlu menjaga kuantitas dan kualitas produk. Dari unsur bahan baku, kelompok petani binaan Karunia mengoptimalkan penanaman tanah-tanah dibawah kayu tegakan perhutani dengan cara tumpangsari. Rata-rata produksi panen 30 ton ketela per hektar. Untuk jenis pohon santurni/dharma dan gropak usia panen 8-9 bulan. Sementara, jenis pohon ketela klanting menunggu hampir setahun baru bisa dipanen.

Tidak berhenti di produksi tepung. Aktivis industri rumah tangga mocaf di Pesangkalan cukup rajin mengadvokasi program-program pelatihan ke Pemerintah Daerah maupun Desa. Misalnya, teknologi pasca panen ketela, pembikinan mie mocaf dan produk² roti berbahan tepung ketela.


Oh, ya. Sudah tahu kan, mocaf itu “modified cassava flour”. Tepung berbahan baku singkong kini makin diminati karena kaya nutrisi dan rendah indeks glikemik yang ramah bagi kalangan pemilik tubuh berkadar gula tinggi.

Ayuk! Rawat, olah dan manfaatkan produk-produk pangan lokal untuk mencukupi kebutuhan pangan kita sehari-hari.

 

* cerita & foto :  Sagiyo Arsadiwirya