Dikisahkan dalam buku riwayat desa, Ki Wiryaguna dan Mbah Mangil — saudaranya, berjalan ke utara dari arah Kebumen. Mereka bermaksud membuka hutan bagi pemukiman baru, diutara sungai Luk Ulo.

Perjalanan berat mereka di Desa Sadang Wetan Kecamatan Sadang membentur sungai. Ditepi sungai yang berair bening itu tumbuh pohon Lo besar. Kemudian, sungai itu –dan pedukuhan sekitarnya– dinamakan Kali Lo-ning.

Mata air –jati sari, gugur, cagar alam midangan dan pletuk– yang berlimpah dibagian hulu sungai dari hutan Perhutani menyediakan aliran deras Kali Loning tiada pernah kering hampir sepanjang tahun.

Sungai Loning suatu jaman pernah berjasa memutar kincir¬≤ air kayu bagi penerangan rumah penduduk –walau “hanya” saat malam hari–, saat sebelum listrik PLN masuk Desa Pesangkalan, pada sebelum pertengahan tahun 2000-an.

Beberapa sumber mata air pula yang melahirkan pesona Curug Pletuk. Curug yang –sepanjang tahun pula–menjadi destinasi wisata alam pengunjung.

Anak-anak muda Pesangkalan, lima tahun terakhir, mengubah Curug Pletuk makin asyik. Dengan akses infrastruktur jalan daerah yang mulus, kini pengunjung dimudahkan mencapai puncak semburan air. Juga, kanan kiri jalan setapak berundak di sekitar Curug penuh tanaman bunga. Serta, puluhan gezebo cantik dengan halaman luas. Dua kolam renang dangkal yang melengkung –yang airnya berasal dari curug pula– sudah bisa dinikmati dibawah Cafe Pletuk.

Pemerintah desa Pesangkalan –sebelum era pilkades– secara turun temurun dipimpin anak cucu Mbah Mangil. Saat kepala desa awal Arsa Dikara (1848-1898), Pesangkalan masih merupakan wilayah Kabupaten Kebumen. Secara administratif, baru masuk Kabupaten Banjarnegara sejak 1927, saat desa di atas perbukitan ini dipimpin Kepala Desa Braja Wijaya II.

Hingga satu setengah abad kemudian, Desa Pesangkalan pernah dipimpin oleh selusin Lurah/Kepala Desa. Penulis selama berdinas di pemerintahan, pernah membersamai tiga kepala desa terakhir.

Berikut nama dan masa kerja kepala Desa Pesangkalan. Ki Arsa Dikara (1848-1898), Braja Wijaya I (1898-1905), Wirya Wijaya atau dikenal dengan Mbah Kecoh (1905-1919). Dan, Madreja (1919-1927).

Kemudian Braja Wijaya II (1927-1942), Darmo Wijaya (1942-1946), Wirya Sentana (1946-1958), Ardjo Suwito (1958-1968), Amin Suwito (1968-1999).

Era Reformasi, dilanjutkan Kepala Desa Salim (1999-2007), Arif Sujono (2007-2015) dan Sarmin atau Siswo (2015- kini).

* cerita & foto :  Sagiyo Arsadiwirya