Oleh : Endang Setiyani, SKM

Balai Litbang Kesehatan Banjarnegara

 

Filariasis atau penyakit kaki gajah yaitu merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh cacing Filaria sp dan ditularkan oleh nyamuk Mansonia, Anopheles, Culex, Armigeres. Penyakit ini dapat menyerang kelenjar dan saluran getah bening yang dapat merusak limfe, menimbulkan pembengkakan pada tangan, kaki, glandula mammae dan scrotum. Pada stadium lanjut dapat menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, lengan, payudara dan alat kelamin. Sampai saat ini di Indonesia dilaporkan terdapat lebih dari 14.932 penderita kasus kronis yang tersebar di 418 kabupaten/kota di 34 provinsi. Filariasis tersebar di seluruh Indonesia terutama di daerah endemis, seperti di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, NTT, Maluku dan Irian Jaya.(1, 2)

Penyakit kaki gajah disebabkan oleh tiga spesies cacing filaria yaitu Wucheria bancrofti, Brugia malayi, dan Brugia timori.(5) Manusia yang terinfeksi parasit bisa menjadi sumber infeksi bagi orang lain yang rentan. Biasanya pendatang baru yang datang ke daerah endemis akan lebih rentan terkena infeksi filariasis dan mengalami gejala lebih berat dibandingkan penduduk asli.(2) Penularan filariasis dapat terjadi karena tiga hal yaitu adanya sumber penularan baik manusia atau hospes reservoir yang mengandung mikrofilaria dalam darahnya, vektor yakni nyamuk yang dapat menularkan filariasis dan manusia yang rentan terhadap filariasis.(3) Seseorang dapat tertular penyakit kaki gajah apabila orang tersebut digigit nyamuk yang infektif yaitu nyamuk yang mengandung larva stadium III (L3). Kemudian memasuki periode laten atau prepaten. Periode laten adalah waktu yang diperlukan antara seseorang terinfeksi sampai ditemukan mikrofilaria dalam darahnya. Waktu ini sesuai pertumbuhan cacing hingga dewasa sampai melahirkan mikrofilaria di dalam darah dan jaringan. Cacing dewasa (makrofilaria) dapat bertahan hidup di dalam tubuh manusia selama 5-7 tahun.(2)

Mikrofilaria dapat terhisap oleh nyamuk yang menggigit manusia, jika mikrofilaria berada pada darah tepi. Oleh karena itu mikroflaria mempunyai beberapa sifat antara lain sifat periodik nokturna yaitu di daerah dimana mikrofilaria keluar memasuki peredaran darah tepi pada malam hari, bergerak ke organ-organ dalam pada siang hari, kemudian mikrofilaria ini menular pada nyamuk yang aktif pada malam hari. Sifat sub periodik nokturna dan non periodik yaitu di daerah dimana mikrofilaria terjadi penularan pada siang dan malam hari.(3)

Filariasis mempunyai gejala dan tanda klinis akut maupun kronis. Gejala akut ditandai dengan demam selama 3-5 hari, pembengkakan kelenjar getah bening (tanpa ada luka) di daerah lipatan paha, ketiak (limfadenitis) yang tanpa kemerahan, panas dan sakit. Selain itu adanya pembesaran tungkai, lengan, buah dada, kantong buah zakar yang kelihatan agak kemerahan dan terasa panas (limfedema dini). Sedangkan filariasis kronis memiliki gejala dan tanda klinis yaitu meliputi pembesaran yang menetap pada tungkai, lengan, buah dada atau buah zakar.(5) Perkembangan klinis filariasis dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain faktor kerentanan individu terhadap pasarit, seringnya mendapat gigitan nyamuk, banyak atau sedikitnya larva infektif yang masuk ke dalam tubuh dan adanya infeksi sekunder oleh bakteri dan jamur.(2)

Diagnosis pasti ditegakkan dengan ditemukannya mikrofilaria dalam darah tepi, kiluria, eksudat, varises limfe, cairan limfe, cairan hidrokel, ditemukannya cacing dewasa pada biopsi kelenjar limfe atau pada penyinaran didapatkan cacing yang sedang mengadakan klasifikasi.  Sebagai diagnosis pembantu, pemeriksaan darah menunjukkan adanya eosinofil antara 5 – 15%. Selain itu juga melalui tes intrademal dan tes fiksasi komplemen dapat membantu menegakkan diagnosis.(2) Cara diagnosis penyakit filariasis antara lain dengan pemeriksaan klinis, pemeriksaan langsung darah segar ujung jari dan pemeriksaan darah jari atau vena dengan pewarnaan. (5)

Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) merupakan salah satu upaya eliminasi filariasis yang bertujuan untuk mematikan mikrofilaria secara serentak kepada penduduk sasaran di wilayah endemis filariasis.(4) Kabupaten atau kota dikatakan endemis filariasis apabila berdasarkan hasil survei data dasar prevalensi mikrofilaria menunjukkan angka mikrofilaria (microfilaria rate) lebih dari dan/atau sama dengan 1%.(3) Keberhasilan POPM untuk eliminasi filariasis sangat ditentukan oleh kepatuhan masyarakat terhadap minum obat filariasis. Obat yang diberikan yaitu obat Diethylcarbamazine Citrat (DEC) dan Albendazole dimana obat ini terbukti efektif dalam memutus rantai penularan pada daerah endemis filariasis. Obat ini diberikan minimal setahun sekali dalam jangka waktu minimal lima tahun berturut- turut dengan tujuan untuk mempertahankan kadar mikrofilaria dalam darah tetap rendah sehingga tidak memungkinkan terjadinya penularan.(4) Efek samping dari obat DEC adalah demam, menggigil, sakit kepala, mual hingga muntah. Pada pengobatan filariasis brugia, efek samping yang ditimbulkan lebih berat. Sehingga dianjurkan dalam dosis rendah, tetapi waktu pengobatan dilakukan dalam jangka waktu yang lama.(2)

Untuk mencegah terjadinya filariasis dapat dilakukan beberapa cara antara lain memberikan penyuluhan terhadap masyarakat, melakukan penyemprotan, menghindari kontak dengan nyamuk dengan pemasangan kelambu, memasang kawat kasa pada ventilasi, memakai obat gosok anti nyamuk (repellents) dan membersihkan tempat perkembangbiakan nyamuk seperti kakus yang terbuka, ban-ban bekas, batok kelapa dan membunuh larva dengan larvasida.(1)

ilustrasi penyakit kaki gajah (sumber foto : google (WHO)

ilustrasi penyakit kaki gajah (sumber foto : google (WHO)

 

 

DAFTAR PUSTAKA :

  1. Anindita, Mutiara H. Filariasis : Pencegahan Terkait Faktor Risiko. JK Unila 2016; Vol. 1 No.2; 393-398.
  2. Penyakit Filariasis. Jurnal Kesehatan Masyarakat 2013; Vol. 7 No. 1; 32-38.
  3. Kemenkes RI. Pusat Data Dan Informasi Tahun 2019.
  4. Ritawati, Oktarina R. Studi Filariasis Pasca-Pemberian Obat Pencegahan Masal (POPM) Filariasis Tahap III Kabupaten Muara Enim Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2016. Jurnal Vektor Penyakit 2018; Vol. 12 No. 2; 93-102.
  5. Kemenkes RI. Pusat Data Dan Informasi Tahun 2020.